Cremiera
Es & Santan·Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur

Cendol

Untaian hijau yang kenyal, santan yang gurih, sirup gula aren yang pekat, dan es. Satu gelas cendol memuat hampir seluruh tata rasa minuman dingin Nusantara.

Redaksi CremieraDitinjau Riset meja

Segelas es cendol dengan untaian hijau dalam santan, difoto di luar ruangan dengan langit dan dedaunan
Es cendol: untaian hijau daun suji dalam santan, es di atasnya. Gunawan Kartapranata · CC BY-SA 3.0 · Commons
Profil minuman
Keluarga
Es & santan
Asal / persebaran
Jawa (Sunda, Jawa Tengah, Jawa Timur); populer di Sumatra, Malaysia, Singapura
Disajikan
Dingin, dengan es serut atau es batu
Bahan utama
Tepung beras (kadang dicampur hunkwe atau sagu), daun suji, santan, gula aren
Rasa
Manis karamel, gurih santan, sedikit asin
Tekstur
Kenyal-lembut, licin di lidah
Nama lain
Dawet (Jawa Tengah/Timur), cindua (Minang), cindolo (Makassar)
Ringkasan

Cendol adalah minuman dingin yang terdiri dari untaian pendek berwarna hijau, dibuat dari adonan tepung beras yang ditekan lewat saringan ke air es, lalu disajikan bersama santan, sirup gula aren, dan es. Warna hijaunya secara tradisional berasal dari daun suji, bukan dari pandan. Di Jawa Tengah dan Jawa Timur minuman yang sama disebut dawet.

Apa itu cendol?

Kalau dilihat dari komposisinya, cendol adalah minuman tiga lapis. Di dasar gelas ada untaian hijau yang biasa disebut cendol juga, yaitu adonan pati yang dimasak sampai kental lalu dilewatkan saringan berlubang ke dalam air es sehingga membeku menjadi potongan-potongan pendek. Di atasnya dituang santan yang diberi sedikit garam dan daun pandan. Terakhir, sirup gula aren yang pekat, dan es serut atau es batu. Pembeli mengaduknya sendiri sampai warna cokelat, putih, dan hijau bercampur.

Nama cendol umumnya dikaitkan dengan kata jendol dalam bahasa Jawa dan Sunda, yang berarti benjolan atau tonjolan. Sejarawan kuliner Fadly Rahman menafsirkannya sebagai gambaran butiran adonan yang "membengkak" saat melewati lidah. Penjelasan ini masuk akal, tetapi tetap etimologi rakyat; tidak ada catatan yang secara langsung membuktikan kaitan itu.

Cerita cendol

Cendol punya masalah yang sama dengan banyak makanan rakyat: dia terlalu biasa untuk dicatat. Catatan tertulis paling awal yang bisa diverifikasi berasal dari abad ke-19. Kamus Makassar–Belanda terbitan 1859 mencantumkan lema tjêndoló, dijelaskan sebagai penganan dari tepung beras atau sagu yang dimasak menjadi bubur lalu ditekan melalui kerangka bambu. Tujuh tahun kemudian, Oost-Indisch Kookboek (1866) memuat resep berjudul "Tjendol of Dawet", tanda bahwa dua nama itu sudah dianggap satu hal sejak dulu.

Klaim yang lebih tua memang beredar. Fadly Rahman menyebut minuman serupa cendol sudah dikenal di Kediri pada abad ke-12 lewat Kakawin Kresnayana, dan Serat Centhini (1814–1823) memang menyebut dawet. Banyak artikel juga mengutip Prasasti Taji (901 M) dari Ponorogo sebagai bukti tertua dawet. Kami belum menemukan transkripsi prasasti itu yang benar-benar memuat kata dawet; yang jelas tercantum di sana justru tuak. Karena itu, Cremiera memperlakukan klaim Taji sebagai klaim populer yang belum terverifikasi. Pembahasan lengkap soal ini, termasuk sengketa dengan Malaysia dan Singapura, ada di Cendol Berasal dari Mana?.

Gerobak es cendol di pinggir jalan Jakarta dengan wadah cendol hijau, santan, dan sirup gula aren berjajar
Gerobak es cendol di Jakarta. Tiga wadah, tiga lapis rasa. Gunawan Kartapranata · CC BY-SA 4.0 · Commons

Bahan dan cara membuatnya

Ada empat komponen, dan masing-masing menentukan hasil akhir.

  • Adonan cendol. Dasarnya tepung beras. Banyak penjual di Jawa Barat mencampurnya dengan tepung hunkwe (pati kacang hijau) supaya lebih kenyal, sementara di Jawa Tengah dan Timur sebagian memakai tepung sagu aren atau tepung beras saja sehingga hasilnya lebih lembut. Adonan dimasak dengan air sampai kental dan mengilap, lalu ditekan lewat saringan atau cetakan berlubang ke dalam baskom air es. Dingin yang mendadak itulah yang membuat untaian membeku dan terputus pendek-pendek.
  • Warna hijau. Secara tradisional dari perasan daun suji (Dracaena angustifolia), yang klorofilnya jauh lebih pekat daripada pandan. Daun pandan ikut diremas bersama suji, tetapi tugasnya memberi aroma. Cendol yang hijaunya sangat terang dan rata biasanya memakai pewarna makanan.
  • Santan. Santan segar dari kelapa parut, diberi sedikit garam dan selembar pandan, biasanya dimasak sebentar saja agar tidak pecah. Garam penting: tanpanya santan terasa datar.
  • Sirup gula aren. Gula aren dilelehkan dengan sedikit air dan pandan sampai kental. Gula aren memberi aroma karamel yang lebih dalam daripada gula kelapa; perbedaannya kami bahas di Apa Beda Gula Aren, Gula Jawa, dan Gula Merah?.

Takaran dan langkah lengkapnya ada di resep cendol tradisional.

Es cendol dalam gelas berkaki: santan di atas, sirup gula aren mengendap, cendol hijau di dasar
Tiga lapis sebelum diaduk: santan, sirup gula aren, cendol. TurquoiseGoose · CC BY-SA 4.0 · Commons

Cendol di berbagai daerah

Begitu keluar dari Bandung, cendol berganti nama, warna, dan isi. Inilah sebagian varian yang terdokumentasi.

Sebagian wajah cendol dan dawet di Indonesia
NamaDaerahYang membedakan
Es cendolJawa Barat (Sunda)Tepung beras + hunkwe, untaian pendek kenyal, sering ditambah nangka. Cendol Elizabeth Bandung dijual sejak 1972.
Dawet Ayu BanjarnegaraBanjarnegara, Jawa TengahTepung beras + tapioka, tekstur sangat lembut, aroma pandan kuat. Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2024.
Dawet Ireng PurworejoPurworejo, Jawa TengahBerwarna hitam dari abu merang; porsi dawet lebih banyak daripada kuahnya.
Dawet JabungPonorogo, Jawa TimurTepung sagu aren, tanpa pewarna, ditambah gempol dan tape; rasanya lebih gurih.
Dawet telasihSolo, Jawa TengahDilengkapi ketan hitam, bubur sumsum, tape, dan biji selasih; pemanisnya sirup gula pasir.
Dawet siwalanTuban dan Lamongan, Jawa TimurDitambah potongan daging buah siwalan; kadang dimaniskan dengan legen.
Cindua langkokSumatra BaratCendol hijau dan merah (merah dari gambir), tepung sagu aren + beras, dengan ketan hitam dan tape.
CindoloMakassar, Sulawesi SelatanDari tepung ketan, dikenal sebagai sajian seremonial.

Halaman dawet membahas keluarga dawet Jawa Tengah dan Jawa Timur lebih rinci.

Cendol dan dawet: sama atau berbeda?

Jawaban pendeknya: satu keluarga, dua dialek. Secara historis kedua nama sudah dipakai bergantian sejak abad ke-19. Dalam praktik hari ini, "cendol" identik dengan versi Sunda yang lebih kenyal dan pendek, sedangkan "dawet" merujuk pada versi Jawa Tengah dan Jawa Timur yang lebih lembut dan lebih beragam isinya. Perbedaan bahan, bentuk, dan cara cetak kami uraikan di Apa Beda Cendol dan Dawet?.

Gula aren, santan, dan pandan

Cendol adalah contoh paling jelas dari "segitiga rasa" yang berulang di banyak minuman dingin Nusantara: manis dari nira palem, gurih dari kelapa, wangi dari daun. Ketiganya punya halaman sendiri di Cremiera: gula aren, santan, dan pandan & suji. Kalau Anda memahami tiga bahan itu, Anda sudah memahami separuh dari es doger, es selendang mayang, dan es goyobod sekaligus.

Yang sering salah saat membuat cendol

  • Adonan kurang matang. Cendol yang pucat, lembek, dan mudah hancur biasanya diangkat sebelum adonan benar-benar mengental dan mengilap. Masak sampai adonan berat diaduk dan tidak lagi berbau tepung mentah.
  • Air penampung tidak cukup dingin. Untaian menjadi panjang dan saling lengket. Pakai air es dengan bongkahan es di dalamnya.
  • Santan dididihkan terlalu lama. Santan pecah, berminyak, dan berbutir. Cukup dipanaskan sampai uapnya naik sambil terus diaduk.
  • Gula aren yang kurang bagus. Sebagian gula "aren" di pasar sebenarnya gula kelapa atau campuran gula pasir. Hasilnya manis tapi tanpa aroma karamel.

Cendol di luar Indonesia

Di Malaysia dan Singapura cendol berkembang menjadi sajian yang lebih ramai: kacang merah, jagung krim, ketan, durian, sampai es krim. Sumber-sumber Malaysia mencatat bahwa versi es-nya berkembang di pelabuhan seperti Melaka dan Pulau Pinang setelah es komersial tersedia pada masa kolonial. Sebagian penjual di Melaka bahkan menyebut cendol diperkenalkan oleh pedagang India, sementara sejumlah pakar kuliner mengaitkannya dengan faloodeh Persia. Cremiera memandang cendol sebagai warisan yang tumbuh bersama di kawasan ini, dengan bukti tertulis tertua yang kebetulan berada di Nusantara.

Semangkuk cendol Pulau Pinang dengan es serut, kacang merah, dan gula melaka
Cendol gaya Pulau Pinang, Malaysia, dengan kacang merah. Xlr8ion · CC BY-SA 4.0 · Commons

Pertanyaan yang sering diajukan

Cendol terbuat dari apa?
Dari adonan tepung beras (sering dicampur tepung hunkwe atau sagu) yang dimasak kental, diwarnai daun suji dan pandan, lalu ditekan lewat saringan ke air es. Disajikan dengan santan, sirup gula aren, dan es.
Apakah warna hijau cendol dari daun pandan?
Secara tradisional dari daun suji. Pandan ikut ditambahkan untuk aroma, tetapi klorofilnya terlalu tipis untuk mewarnai adonan. Cendol yang hijaunya sangat terang biasanya memakai pewarna makanan.
Cendol berasal dari mana?
Catatan tertulis tertua yang terverifikasi berasal dari Nusantara pada abad ke-19 (kamus Makassar–Belanda 1859, buku masak Hindia 1866). Klaim yang lebih tua, termasuk Prasasti Taji, belum terverifikasi. Malaysia dan Singapura punya tradisi cendol sendiri yang tumbuh di pelabuhan pada masa kolonial.
Apakah cendol dan dawet sama?
Satu keluarga. Sejak abad ke-19 kedua nama dipakai bergantian. Hari ini "cendol" identik dengan versi Sunda yang lebih kenyal, "dawet" dengan versi Jawa Tengah dan Timur yang lebih lembut.

Sumber & bacaan

  1. Cendol Wikipedia (Inggris), termasuk rujukan ke Makassaarsch-Hollandsch Woordenboek (1859), Oost-Indisch Kookboek (1866), dan Clifford & Swettenham (1894).
  2. Claimed by Malaysia and Singapore, Historian Confirms that Cendol is from Indonesia Seasia, 2023. Pendapat Fadly Rahman.
  3. Makanan-Minuman Orang Jawa 1.100 Tahun Silam Museum Ullen Sentalu; daftar makanan-minuman dalam Prasasti Taji.
  4. Dari Daun Suji dan Pandan: Rahasia Sains di Balik Segelas Cendol Hijau Good News From Indonesia, 2025.
  5. Cendol Elizabeth: Rasa yang Tak Pernah Berubah, Legakan Dahaga Sejak 1972 Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
  6. Cindua Langkok, Sajian dari Ranah Minang RRI Bukittinggi.