Cremiera
Es & Santan·Jawa Tengah

Dawet Ireng Purworejo

Hitam pekat bukan karena pewarna, melainkan abu jerami padi. Dawet ini lahir untuk petani yang baru pulang dari sawah.

Redaksi CremieraDitinjau Riset meja

Semangkuk dawet ireng Purworejo dengan untaian dawet hitam dalam santan dan gula merah
Dawet ireng: untaian hitam dari abu merang. Ardy Wicaksono · CC BY-SA 4.0 · Commons
Profil minuman
Keluarga
Es & santan
Asal
Butuh, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah
Disajikan
Dingin, dalam mangkuk kecil; dawet lebih banyak daripada kuah
Bahan utama
Tepung beras, abu merang (oman), santan, gula merah
Rasa
Manis-gurih dengan sentuhan aroma bakar yang samar
Tekstur
Lebih kenyal daripada dawet ayu
Dikenal sejak
Sekitar 1950 (versi tutur keluarga penjual)
Ringkasan

Dawet ireng (dawet hitam) adalah dawet khas Purworejo, Jawa Tengah, yang untaiannya berwarna hitam karena adonan tepung berasnya dicampur air abu merang, yaitu abu dari jerami padi yang dibakar. Menurut cerita keluarga penjualnya, dawet ini mulai dijual sekitar 1950 oleh Mbah Ahmad di sebelah timur jembatan Butuh, di sisi barat Kabupaten Purworejo.

Abu merang, warna yang tidak dibeli

Merang adalah tangkai padi yang tersisa setelah panen. Dibakar, abunya dilarutkan dalam air, diendapkan, dan air jernih di atasnya dipakai untuk mencampur adonan. Abu ini bersifat basa; selain memberi warna hitam keabu-abuan, ia membuat untaian sedikit lebih kenyal. Teknik yang sama dipakai untuk membuat cincau hitam dan sejumlah jajanan pasar. Belakangan, abu merang tidak lagi dibuat sendiri: di toko bahan kue sekitar Purworejo dijual "tepung oman", abu merang yang sudah diproses.

Warna hitam yang rata dan pekat tidak selalu berarti abu merang. Sebagian penjual di luar Purworejo memakai pewarna hitam. Rasanya boleh mirip, tetapi kenyal dan aroma bakar yang samar itu yang hilang.

Sejarah singkat

Cerita yang diwariskan keluarga penjual menyebut Mbah Ahmad membuka warung dawet di timur jembatan Butuh sekitar 1950, awalnya untuk petani yang lewat saat musim panen. Warung-warung di kawasan itu, termasuk yang dikelola generasi berikutnya, masih menjadi rujukan sampai sekarang. Tanggal 1950 bersumber dari tutur keluarga, bukan dokumen, dan kami menuliskannya apa adanya.

Kios dawet hitam Pak Wagiman di Butuh, Purworejo, dengan gentong dan mangkuk berjajar
Kios dawet hitam di Butuh, Purworejo. DARMAS BS 9 · CC BY-SA 4.0 · Commons

Cara menyajikan

Yang unik dari dawet ireng adalah proporsinya: mangkuknya kecil, dawetnya penuh, kuah santan dan gula merahnya sedikit. Pembeli yang terbiasa dengan cendol Sunda mungkin kaget karena "minumannya" hampir tidak bisa diminum, lebih tepat disendok. Es batu ditambahkan terakhir. Pasangannya di warung-warung Butuh biasanya jajanan pasar seperti getuk.

Sumber & bacaan

  1. Dawet Ireng Hingga Gethuk: yang Hitam dan Manis dari Purworejo Tirto.id.
  2. Mengenal Es Dawet Ireng, Minuman Manis dan Segar Khas Purworejo detikJateng.
  3. Dawet Ireng khas Purworejo Budaya Indonesia.