Cremiera
Cerita & tradisi

Dodol Dawet: Ketika Orang Tua Pengantin Berjualan

Payung dibuka, gentong dawet dikeluarkan, dan ayah calon pengantin menerima pecahan genting sebagai uang. Sebuah pasar kecil yang dibuka untuk satu sore.

Redaksi CremieraDitinjau Riset meja

Es dawet dalam gelas dengan santan dan gula merah
Dawet, minuman yang dijual dalam prosesi dodol dawet. Supardisahabu · CC BY-SA 4.0 · Commons

Di halaman rumah, sore hari sebelum akad nikah, sebuah kios dadakan dibuka. Ada gentong berisi dawet, ada payung yang dipegangi, ada pembeli yang antre. Penjualnya bukan tukang dawet: ia ayah calon pengantin perempuan, dan yang menuang dawet ke mangkuk adalah ibunya. Para tamu membayar bukan dengan uang, melainkan dengan kreweng, pecahan genting tanah liat, atau dengan uang koin. Inilah dodol dawet, secara harfiah "menjual dawet", satu rangkaian dalam upacara pernikahan adat Jawa yang dijalankan seusai siraman.

Tempatnya dalam rangkaian

Pernikahan adat Jawa gaya Surakarta dan Yogyakarta punya rangkaian panjang sebelum akad: pemasangan tarub dan bleketepe, siraman (memandikan calon pengantin dengan air bunga), ngerik (merapikan rambut halus di dahi), dan malamnya midodareni. Dodol dawet berlangsung tepat setelah siraman. Calon pengantin perempuan, yang sudah dimandikan dan diganti pakaiannya, biasanya tidak ikut berjualan; ia menyaksikan atau beristirahat. Yang bekerja adalah orang tuanya.

Ibu meracik: dawet dari gentong, santan, juruh gula merah. Ayah melayani dan menerima pembayaran, sambil dipayungi. Tamu, tetangga, dan kerabat datang "membeli". Dalam banyak keluarga, uang kreweng itu kemudian diserahkan kepada ibu, atau dikumpulkan dan disimpan.

Apa yang dimaknai

Penjelasan yang paling sering diberikan pemangku adat dan keluarga ada tiga lapis, dan biasanya diceritakan bersama-sama.

  • Rezeki yang mengalir. Dawet yang laris melambangkan harapan agar rumah tangga baru dilimpahi rezeki, sebanyak butiran dawet yang tak terhitung. Ada pula yang menambahkan: sebanyak tamu yang datang esok hari.
  • Pembagian peran. Ibu yang meracik dan ayah yang menjual dan menerima uang dibaca sebagai gambaran kerja sama suami-istri: yang satu mengelola rumah, yang lain mencari nafkah. Sebagian keluarga membaliknya dengan sengaja untuk menekankan kesetaraan.
  • Kasih orang tua. Orang tua yang "berjualan" untuk anaknya adalah gambaran mereka bekerja sekali lagi, sepenuh hati, sebelum melepas anak. Kreweng sebagai alat bayar mengingatkan bahwa yang dijual bukan barang dagangan.

Sebuah kajian tentang prosesi ini di Desa Balongmacekan, Sidoarjo, menambahkan dimensi sosial: dodol dawet adalah ajang kebersamaan, dan tamu yang ikut "membeli" ikut menyatakan dukungan pada rumah tangga yang akan berdiri.

Mengapa dawet

Tidak ada catatan yang menjelaskan mengapa yang dijual dawet, bukan minuman lain. Tafsir yang beredar bertumpu pada bentuknya: butiran yang banyak dan tak terhitung (rezeki), santan yang putih (kesucian), gula merah yang manis (kebahagiaan). Yang bisa dikatakan dengan lebih pasti adalah bahwa dawet, sebagai minuman rakyat yang sudah tercatat dalam Serat Centhini pada awal abad ke-19, adalah minuman yang tersedia di semua lapisan masyarakat Jawa. Sebuah upacara memilih yang ada.

Hari ini

Dodol dawet masih dijalankan di banyak pernikahan Jawa, dari desa sampai pesta selebritas di Jakarta, dan sering menjadi bagian yang paling ramai karena tamu bisa ikut bermain. Di beberapa keluarga prosesi ini dipadatkan menjadi simbolis: satu-dua mangkuk saja. Di keluarga lain, dawet benar-benar dibuat dalam jumlah besar dan dibagikan kepada tetangga sekampung. Bentuknya berubah; makna yang diceritakan tetap.

Sumber & bacaan

  1. Prosesi Dodol Dawet dalam Pernikahan Jawa RRI.
  2. Makna dan Simbol Dodol Dawet pada Adat Prosesi Pernikahan Jawa di Desa Balongmacekan, Kecamatan Tarik, Sidoarjo Preprint, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo.
  3. Mengenal Tradisi Dodol Dawet dalam Upacara Pernikahan Adat Jawa Pantura Post.