Dawet ayu adalah dawet khas Banjarnegara, Jawa Tengah, yang dikenal karena teksturnya yang sangat lembut dan cara jualnya: dipikul dengan dua gentong tanah liat, satu berisi dawet dan satu berisi santan, sering dihiasi ukiran tokoh punakawan Semar dan Gareng. Pada 16 November 2024 dawet ayu ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.
Dari mana nama "ayu"?
Ada tiga versi yang beredar di Banjarnegara, dan ketiganya tidak saling meniadakan.
- Dari lagu. Menurut Ketua Dewan Kesenian Banjarnegara, Tjundaroso, dawet Banjarnegara menjadi terkenal berkat lagu "Dawet Ayu Banjarnegara" ciptaan seniman setempat bernama Bono, yang dipopulerkan kembali oleh grup calung dan lawak Peang Penjol pada 1980-an.
- Dari penjual yang cantik. Sastrawan Ahmad Tohari, mengutip tradisi lisan, menyebut sebuah keluarga yang berjualan dawet sejak awal abad ke-20; generasi ketiganya perempuan yang terkenal cantik, dan pembeli menyebut dagangannya "dawet ayu".
- Dari istri Munardjo. Versi tokoh masyarakat lain menyebut pedagang bernama Munardjo yang istrinya cantik, sehingga dawetnya dijuluki dawet ayu.
Versi kedua dan ketiga sebenarnya cerita yang sama dengan nama yang berbeda: dawet yang dijual perempuan cantik. Versi pertama menjelaskan mengapa nama itu menyebar ke luar Banjarnegara. Cremiera tidak memilih salah satunya.
Bahan dan tekstur
Yang membuat dawet ayu berbeda dari cendol Sunda adalah campuran patinya: tepung beras dengan tapioka, tanpa hunkwe. Hasilnya untaian yang sangat lembut, hampir tanpa perlawanan di gigi. Santannya diberi pandan dan sedikit garam, gula merahnya dilelehkan sampai kental. Sebagian penjual menambahkan potongan nangka atau durian. Resep versi rumahan ada di resep dawet ayu.

Pikulan dua gentong
Pikulan dawet ayu adalah bagian dari identitasnya. Dua gentong tanah liat digantung di ujung pikulan bambu; yang satu berisi dawet dalam air, yang lain santan. Sirup gula merah dibawa dalam wadah terpisah. Banyak pikulan dihiasi ukiran kayu Semar dan Gareng, dua punakawan wayang, yang oleh sebagian orang dibaca sebagai plesetan "semarang mareng" (sedang cerah), doa agar dagangan laris. Kami tidak menemukan sumber yang cukup kuat untuk asal-usul hiasan ini, jadi anggaplah sebagai tradisi yang penjelasannya beragam.
Status Warisan Budaya Takbenda
Dawet ayu diusulkan Pemerintah Kabupaten Banjarnegara pada akhir 2023, melewati sidang penetapan yang melibatkan tim ahli warisan budaya takbenda, dan ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada Apresiasi Warisan Budaya Indonesia 2024 di Taman Fatahillah, Jakarta, 16 November 2024. Penetapan ini bukan soal rasa, melainkan pengakuan bahwa praktik membuat dan menjualnya adalah pengetahuan yang diwariskan.
Sumber & bacaan
- Dawet Ayu Banjarnegara Resmi Ditetapkan Sebagai Warisan Budaya TakBenda Indonesia Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banjarnegara.
- Dawet Ayu Banjarnegara jadi warisan budaya tak benda Indonesia ANTARA, November 2024.
- Ini Cerita Soal Asal Usul Nama Es Dawet Ayu Banjarnegara detikFood.
- Sejarah Dawet Ayu Banjarnegara, Konon dari Penjual Berparas Cantik Espos.id.



