Sumatra Barat adalah tanah perkebunan teh dan kopi sejak abad ke-19, dan dua minuman paling khasnya lahir dari itu: teh talua, teh kental yang dituang ke kuning telur kocok sampai berlapis lima, dan kawa daun, seduhan daun kopi sangrai yang diminum dari tempurung. Keduanya punya tempat sendiri: lapau untuk teh talua, dangau di tepi jalan untuk kawa daun. Dan Minang punya cendolnya: cindua langkok, cendol hijau dan merah (merah dari gambir) dengan ketan hitam, tape, dan gula aren, yang kami bahas di halaman cendol.
Minuman yang dibahas
- Es & SantanCendolUntaian hijau tepung beras dalam santan dan gula aren. Ikon minuman dingin Nusantara.
- Teh & KopiTeh TaluaTeh dengan kuning telur kocok yang berlapis lima. Minuman lapau Minangkabau.
- Teh & KopiKawa DaunSeduhan daun kopi sangrai dalam tempurung kelapa. Cara Minang menikmati kopi tanpa biji.
Lapau dan ota
Lapau adalah warung kopi Minangkabau, dan ota lapau (obrolan di lapau) adalah lembaga sosial: tempat kabar kampung, politik, dan cerita perantau beredar. Teh talua adalah minuman lapau yang paling khas, tetapi kopi dan teh biasa juga disajikan. Cerita lapau ada di Ota di Lapau, Teh Talua di Meja.
Kopi dan daunnya
Kawa daun sering dijelaskan sebagai akibat tanam paksa kopi: biji untuk Belanda, daun untuk rakyat. Sejarawan Gusti Asnan dari Universitas Andalas menganggap kebiasaannya lebih tua. Kami memuat keduanya di Kawa Daun: Kopi yang Diminum dari Daunnya.
Sumber & bacaan
- Teh Talua, Daya Tarik Wisata Sumatera Barat Jurnal Menara Ilmu, UMSB.
- Cindua Langkok, Sajian dari Ranah Minang RRI Bukittinggi.
