Es selendang mayang adalah minuman khas Betawi berupa potongan tipis puding tiga warna, merah, putih, dan hijau, yang disiram santan dan gula merah cair lalu diberi es. Pudingnya dibuat dari tepung sagu aren atau hunkwe, kadang dicampur tepung beras. Nama selendang merujuk pada lapisan warnanya yang mirip selendang penari, sementara mayang biasa diartikan kenyal dan manis.
Nama dan cerita di baliknya
Kalau "selendang" mudah dipahami dari tampilannya, "mayang" lebih kabur. Sebagian mengaitkannya dengan sifat pudingnya yang kenyal, sebagian dengan mayang kelapa, dan ada pula yang menghubungkannya dengan cerita rakyat Betawi Si Jampang dan tokoh Mayang Sari. Kaitan yang terakhir ini terdengar manis tetapi sulit dibuktikan. Yang lebih pasti: minuman ini sudah dikenal setidaknya sejak 1940-an dan diturunkan lintas generasi di keluarga-keluarga Betawi.
Puding yang dipotong tipis
Adonan sagu aren atau hunkwe dimasak dengan air, gula, dan sedikit garam sampai kental, lalu dibagi tiga: satu dibiarkan putih, satu diberi warna merah, satu diberi hijau dari suji dan pandan. Ketiganya dituang berlapis ke loyang, didinginkan sampai set, lalu dipotong tipis-tipis dengan pisau yang dicelup air. Karena tipis, potongan puding ini menyerap santan dan gula dengan cepat.
Mengapa kian langka
Es selendang mayang tidak dijual dari gerobak yang gampang berpindah tempat; pudingnya harus dibuat pagi dan habis hari itu juga, dan penjualnya makin sedikit. Hari ini minuman ini paling mudah ditemui di kawasan Kota Tua Jakarta, Setu Babakan, dan acara-acara budaya Betawi, sering berdampingan dengan bir pletok dan kerak telor.
Sumber & bacaan
- Es selendang mayang Wikipedia (Indonesia).
- Es Selendang Mayang, Minuman Cantik yang Menyegarkan Budaya Indonesia.



