Cendol dan dawet adalah satu keluarga minuman: untaian pati hijau dalam santan dan gula aren. Secara historis nama keduanya dipakai bergantian; buku masak Hindia 1866 memuat resep berjudul "Tjendol of Dawet". Dalam praktik hari ini, cendol merujuk pada versi Sunda (Jawa Barat) yang memakai campuran tepung beras dan hunkwe, dicetak dengan ditekan sehingga pendek dan kenyal; dawet merujuk pada versi Jawa Tengah dan Jawa Timur yang memakai tepung beras, sagu aren, atau tapioka, digoyang di saringan sehingga lebih tipis dan lembut, dengan lebih banyak variasi isi.
Perbandingan
| Cendol | Dawet | |
|---|---|---|
| Daerah | Jawa Barat (Sunda); istilah umum di Sumatra, Malaysia, Singapura | Jawa Tengah dan Jawa Timur |
| Pati | Tepung beras + hunkwe (pati kacang hijau), kadang sagu | Tepung beras; tepung beras + tapioka (dawet ayu); sagu aren (Jabung, Jepara); ganyong (Kudus) |
| Cara cetak | Ditekan lewat cetakan berlubang | Digoyang di atas saringan |
| Bentuk | Pendek, tebal, ujung tumpul | Lebih tipis dan panjang |
| Tekstur | Kenyal, "melawan" di gigi | Lembut, licin |
| Warna | Hijau (suji) | Hijau (suji), putih (Tegal), hitam (Purworejo), tanpa pewarna (Jabung), ungu (Karanganyar) |
| Pemanis | Sirup gula aren | Juruh gula merah atau gula aren; sirup gula pasir (telasih) |
| Pelengkap lazim | Nangka, es serut | Nangka, durian, tape ketan, ketan hitam, bubur sumsum, selasih, siwalan |
| Peran adat | Tidak khusus | Dodol dawet dalam pernikahan Jawa |
Mengapa satu keluarga
Kamus Makassar–Belanda 1859 mendefinisikan tjêndoló sebagai penganan tepung beras atau sagu yang dimasak lalu ditekan lewat kerangka bambu. Tujuh tahun kemudian Oost-Indisch Kookboek menulis "Tjendol of Dawet", cendol atau dawet, sebagai satu resep. Serat Centhini (1814–1823) sudah menyebut dawet. Artinya, sejak catatan tertulis pertama, kedua nama merujuk ke hal yang sama, dan perbedaan yang kita rasakan hari ini adalah perbedaan dialek daerah yang mengeras menjadi perbedaan gaya.
Mana yang lebih tua?
Sumber-sumber Jawa Tengah dan Timur menyebut dawet lebih tua dan cendol adalah nama yang belakangan populer lewat Sunda dan Melayu. Sumber-sumber Malaysia menyebut cendol sebagai nama asli. Cremiera tidak punya bukti untuk memutuskan; yang bisa dikatakan adalah "dawet" muncul dalam Serat Centhini (awal abad ke-19) dan "tjendol" dalam kamus 1859, dan keduanya sudah dianggap sama pada 1866. Uraian klaim yang lebih tua, termasuk Prasasti Taji, ada di Cendol Berasal dari Mana?.
Cara membedakan di gelas
- Untaian pendek, tebal, kenyal, hijau rata, dengan nangka: kemungkinan besar cendol gaya Sunda.
- Untaian tipis, lembut, dengan santan yang wangi pandan, dari pikulan dua gentong: dawet ayu Banjarnegara.
- Hitam: dawet ireng Purworejo Purworejo.
- Bening tanpa pewarna, dengan gempol dan tape, rasa gurih: dawet Jabung Ponorogo.
- Dengan ketan hitam, bubur sumsum, dan selasih: dawet telasih Solo.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apakah cendol dan dawet sama?
Cendol pakai tepung apa, dawet pakai tepung apa?
Sumber & bacaan
- Cendol Wikipedia (Inggris); sumber 1859 dan 1866.
- Sudah Tahu Perbedaan Cendol dan Dawet? Jangan Salah Sebut Lagi! Dapur Umami.



