Cremiera
Cerita & tradisi

Gerobak, Nota Toko Tas, dan Nama Cendol Elizabeth

Sebuah gerobak yang berkeliling Dago dan Cihampelas, seorang pelanggan yang mencatat pesanan di nota tokonya, dan nama Inggris untuk minuman Sunda.

Redaksi CremieraDitinjau Riset meja

Masjid Raya Bandung dan alun-alun
Alun-alun Bandung. Rhmtdns · CC BY-SA 3.0 · Commons

Sebagian besar minuman di Cremiera tidak punya pencipta. Cendol tidak, dawet tidak, bandrek tidak. Yang punya nama biasanya adalah merek, dan merek yang paling terkenal untuk cendol di Indonesia punya cerita yang pantas dicatat karena sangat biasa: seorang penjual gerobak, seorang pelanggan, dan sebuah kebiasaan kecil.

Gerobak, 1972

H. Rohman mulai berjualan es cendol di Bandung pada 1972 dengan gerobak dorong. Ia tinggal di rumah kontrakan di Jalan Lio Genteng, Astanaanyar, dan berkeliling ke Dago dan Cihampelas, dua kawasan yang saat itu sudah ramai. Cendolnya adalah cendol Sunda: tepung beras dengan hunkwe, santan, gula aren, es serut, dan nangka. Tidak ada yang istimewa dalam resepnya menurut keluarganya sendiri; yang mereka pertahankan adalah konsistensi, dan itu yang mereka sebut rahasianya.

Eli dan nota tokonya

Sekitar 1980, gerobak Rohman punya tempat mangkal tetap di depan rumah seorang pelanggan bernama Eli. Eli memiliki toko tas bernama Elizabeth, dan kalau memesan cendol untuk tamu atau tetangga, ia mencatat pesanannya di nota toko itu. Nota bertuliskan "Elizabeth" berpindah tangan berkali-kali, dan orang mulai menyebut "cendol Elizabeth" untuk cendol yang mangkal di sana. Eli sendiri yang kemudian menyarankan agar nama itu dipakai. Rohman setuju. Sebuah minuman Sunda mendapat nama Inggris dari toko tas, dan nama itu ternyata mudah diingat.

Dari gerobak ke kios ke mal

Cendol Elizabeth pindah dari gerobak ke kios, lalu ke beberapa cabang di Bandung, lalu ke gerai di mal dan ke luar kota. Anak-anak Rohman meneruskannya. Pemerintah Kota Bandung dan Provinsi Jawa Barat menjadikannya bagian dari promosi kuliner kota, dan Cendol Elizabeth pernah disajikan untuk tamu-tamu negara dalam apa yang disebut media sebagai diplomasi cendol. Semua itu dari resep yang, menurut keluarganya, tidak pernah berubah sejak 1972.

Yang diwakili gerobak itu

Cerita Cendol Elizabeth adalah cerita ribuan penjual keliling yang tidak sampai punya merek. Gerobak yang berkeliling kampung, tempat mangkal yang menjadi tetap karena pelanggan yang setia, dan nama yang diberikan orang lain, bukan oleh penjual. Bandrek dan bajigur dijual dengan cara yang sama di kota yang sama; dawet ayu dipikul dengan cara yang sama di Banjarnegara; es doger didorong dengan cara yang sama di Cirebon. Kebanyakan minuman di Cremiera sampai kepada kita lewat kaki lima, dan Cendol Elizabeth kebetulan cerita yang tercatat.

Sumber & bacaan

  1. Cendol Elizabeth: Rasa yang Tak Pernah Berubah, Legakan Dahaga Sejak 1972 Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
  2. Mengenal Asal Usul Berdirinya Es Cendol Elizabeth Pemerintah Kota Bandung.
  3. Sejarah Es Cendol Elizabeth, Kuliner Khas Bandung untuk Diplomasi Kompas.com.