Cremiera
Suasana Pasar Beringharjo, pasar tertua di Yogyakarta
Jawa

Yogyakarta

Kota yang minum di angkringan sampai larut, dan yang menyeduh sampah rempah untuk peziarah makam raja.

Redaksi CremieraDitinjau Riset meja

Pulau
Jawa
Kelompok budaya
Jawa Mataraman
Bahan khas
Secang, jahe, daun cengkih dan daun pala, kopi, tepung ketan
Ruang sosial
Angkringan, Malioboro, kompleks makam Imogiri

Gbr. 01 Pasar Beringharjo, Yogyakarta. Jamu gendong dan wedang dijual di sekitarnya. Aqilla Rahmi · CC BY-SA 4.0 · Commons

Yogyakarta memberi tiga minuman yang tidak ada di tempat lain dengan bentuk yang sama. Wedang Uwuh lahir di Imogiri, Bantul, dari daun-daun rempah yang diseduh untuk peziarah makam raja-raja Mataram. Kopi Joss lahir di angkringan Lik Man di utara Stasiun Tugu, ketika arang membara dicemplungkan ke kopi tubruk. Wedang Ronde bukan asli Yogyakarta, tetapi gerobak-gerobak ronde di Malioboro dan alun-alun membuatnya identik dengan kota ini. Di pagi hari, jamu gendong berkeliling dari Pasar Beringharjo dan Pasar Ngasem.

Minuman yang dibahas

Angkringan

Angkringan adalah gerobak makan malam Yogyakarta dengan tikar, bangku panjang, dan ceret di atas arang: nasi kucing, sate, gorengan, dan minuman panas. Kopi joss, wedang jahe, dan teh adalah minumannya. Angkringan adalah ruang sosial lintas kelas, dan kopi joss adalah tontonannya.

Imogiri

Kompleks makam raja-raja Mataram di Imogiri didirikan Sultan Agung pada 1630-an dan menjadi tujuan ziarah. Wedang uwuh dijual di kaki bukitnya. Legenda Sultan Agung dan cerita peziarahnya ada di Wedang Uwuh dan Peziarah Imogiri.

Sumber & bacaan

  1. Kopi Joss, Inovasi Kuliner yang Menjadi Identitas Budaya Kota Yogyakarta Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta.
  2. Sentra Wedang Uwuh Imogiri Bantul Badan Otorita Borobudur.