Cremiera
Wedang & Rempah·Yogyakarta

Wedang Uwuh

Segenggam daun dan serutan kayu yang tampak seperti sampah kebun, disiram air panas, dan berubah merah. Dari kaki bukit makam raja-raja Mataram.

Redaksi CremieraDitinjau Riset meja

Segelas wedang uwuh merah dengan daun cengkih, daun pala, serutan secang, dan jahe di dalamnya
Wedang uwuh setelah diseduh: merah dari secang. M Joko Apriyo Putro · CC BY-SA 4.0 · Commons
Profil minuman
Keluarga
Wedang & rempah
Asal
Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta
Disajikan
Panas, diseduh langsung di gelas
Bahan utama
Kayu secang, jahe, daun cengkih, daun pala, daun kayu manis (manisjangan), cengkih, gula batu
Rasa
Manis gula batu, hangat jahe, wangi cengkih dan pala, sedikit sepat
Warna
Merah dari secang
Nama
Jawa: uwuh = sampah, rerontokan daun
Susunansecang+jahe+daun cengkih+daun pala+gula batu
Ringkasan

Wedang uwuh adalah minuman hangat khas Imogiri, Bantul, Yogyakarta, berupa seduhan serutan kayu secang, jahe, daun cengkih, daun pala, daun kayu manis, cengkih kering, dan gula batu. Dalam bahasa Jawa uwuh berarti sampah; nama itu menggambarkan tumpukan daun dan serutan kayu di dasar gelas. Warna merahnya berasal dari secang.

Sampah yang wangi

Kalau Anda membeli wedang uwuh kering, isinya memang tampak seperti hasil menyapu halaman: daun-daun kering, ranting, serutan kayu, cengkih utuh, potongan jahe. Begitu disiram air panas, semuanya berubah. Secang melepaskan warna merah, daun cengkih dan daun pala melepaskan aroma hangat, jahe memberi pedas, gula batu memberi manis yang pelan. Daun-daun itu bukan sekadar hiasan; daun cengkih, pala, dan kayu manis membawa aroma yang berbeda dari rempah keringnya.

Komposisi wedang uwuh kering: serutan secang, daun cengkih, daun pala, cengkih, jahe, dan gula batu
Isi satu bungkus wedang uwuh sebelum diseduh. Khumairoh27 · CC BY-SA 4.0 · Commons

Legenda Sultan Agung

Cerita yang diwariskan di Imogiri: pada 1630-an Sultan Agung mencari lokasi pemakaman keluarga raja Mataram dan bersemedi di perbukitan Imogiri. Abdi dalem menyiapkan wedang secang untuknya dan meletakkannya di bawah pohon. Angin merontokkan daun-daun kering ke dalam gelas tanpa disadari. Sultan meminumnya, menyukainya, dan pada hari lain meminta wedang "yang sama persis, dengan daun-daunnya". Ini legenda; tidak ada dokumen yang mendukungnya. Yang lebih pasti adalah hubungan wedang uwuh dengan peziarah makam raja-raja Mataram di Imogiri, yang kami tulis di Wedang Uwuh dan Peziarah Imogiri.

Cara menyeduh

  1. Masukkan semua bahan kering ke gelas atau teko: secang, daun cengkih, daun pala, daun kayu manis, cengkih, jahe (dibakar dan digeprek lebih baik), dan gula batu.
  2. Siram dengan air mendidih, tutup, diamkan lima menit sampai warna merah keluar.
  3. Untuk rasa lebih kuat, rebus semua bahan sepuluh menit dengan api kecil.

Bahan yang sama bisa diseduh dua sampai tiga kali; seduhan kedua lebih ringan tetapi masih merah. Resep lengkap di resep wedang uwuh.

Wedang uwuh dan wedang secang

Wedang uwuh adalah wedang secang yang diperkaya daun-daunan. Kalau secang dan jahe saja, itu wedang secang; kalau ditambah daun cengkih, daun pala, dan daun kayu manis, itu wedang uwuh. Kerabatnya yang lain, bir pletok, juga merah karena secang tetapi bertumpu pada rempah kering dan serai.

Sumber & bacaan

  1. Sejarah Wedang Uwuh, Minuman Tradisional dari Bantul Yogyakarta Kompas.com.
  2. Sentra Wedang Uwuh Imogiri Bantul Badan Otorita Borobudur, Kemenparekraf.
  3. Nikmatnya Wedang Uwuh Mbah Sudi, Minuman Segar Penjaga Stamina Khas Imogiri Pemerintah Kabupaten Bantul.