Jakarta menyumbang dua hal pada peta minuman Nusantara. Pertama, minuman Betawi yang lahir dari pergaulan kota kolonial: bir pletok, jawaban orang Betawi atas bir Belanda, dan es selendang mayang, puding tiga warna dalam santan yang kini kian langka. Kedua, minuman yang diciptakan di gerobak kota besar dan menyebar lewat waralaba: es teler. Selain itu, Jakarta adalah pelabuhan tempat bongkahan es dari Boston mendarat pada 1846, peristiwa yang mengubah cara Nusantara minum; ceritanya di Ketika Es Tiba di Batavia.
Minuman yang dibahas
- Es & SantanEs DogerEs serut santan merah muda dengan tape, ketan hitam, dan pacar cina. Dari gerobak dorong Cirebon.
- Es & SantanEs Selendang MayangPuding tiga warna dari sagu aren dalam santan dan gula merah. Warisan Betawi yang kian langka.
- Es & SantanEs CincauJeli daun cincau hijau atau hitam dalam santan atau sirup. Dingin, licin, sederhana.
- Es & SantanEs TelerAlpukat, kelapa muda, nangka, dan santan. Lahir dari gerobak Jakarta pada 1980-an.
- Wedang & RempahBir PletokBir tanpa alkohol khas Betawi: jahe, secang, serai, dan rempah, merah menyala.
- Wedang & RempahSekotengKuah jahe berisi kacang hijau, kacang tanah, pacar cina, dan roti. Hangat dan kenyang.
Delapan ikon Betawi
Peraturan gubernur DKI Jakarta menetapkan delapan ikon budaya Betawi, dan bir pletok ada di antaranya bersama kerak telor, ondel-ondel, dan batik Betawi. Di Kota Tua dan Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan, bir pletok dan selendang mayang dijual berdampingan. Cerita bir pletok ada di Bir Pletok, Bir yang Tidak Memabukkan.
Kota semua orang
Hampir semua minuman Nusantara bisa ditemukan di Jakarta: cendol dan bajigur dari gerobak Sunda, wedang ronde dan sekoteng dari penjual Jawa, es pisang ijo Makassar, sampai lapo tuak Batak di Senen dan Tanjung Priok. Jakarta adalah tempat minuman daerah bertemu, dan sering berubah.
Sumber & bacaan
- Bir pletok Wikipedia (Indonesia).
- Sejarah Es Batu Pertama Masuk Indonesia yang Bikin Heboh pada 1846 Jatim Times.
