Imogiri adalah bukit di selatan Yogyakarta yang dipilih Sultan Agung Hanyakrakusuma, raja Mataram terbesar, sebagai tempat pemakaman dirinya dan keturunannya. Pembangunannya dimulai pada 1630-an. Sejak itu Imogiri menjadi tujuan ziarah: makam Sultan Agung, raja-raja Surakarta, dan raja-raja Yogyakarta ada di kompleks yang sama, dan peziarah datang sepanjang tahun, terutama pada malam-malam tertentu dalam kalender Jawa. Di kaki bukitnya, sebuah minuman tumbuh bersama para peziarah.
Legenda yang diceritakan di kaki bukit
Penjual wedang uwuh di Imogiri menceritakan versi yang kurang lebih sama. Sultan Agung, saat mencari lokasi makam, bersemedi di perbukitan itu. Abdi dalem menyiapkan wedang secang untuk beliau dan meletakkannya di bawah pohon. Angin bertiup, daun-daun kering berjatuhan ke dalam wedang tanpa ada yang tahu. Sultan meminumnya dan ternyata menyukai rasa daun-daun itu. Keesokan harinya beliau meminta wedang yang sama, lengkap dengan daunnya, dan abdi dalem harus meracik "sampah" itu dengan sengaja. Begitulah wedang uwuh, wedang sampah, lahir.
Ini legenda, dan kami menuliskannya sebagai legenda. Tidak ada babad atau catatan keraton yang menyebutnya. Fungsinya bukan sebagai sejarah, melainkan sebagai cara menjelaskan dua hal sekaligus: nama yang aneh, dan kaitan dengan makam yang membuat orang datang.
Peziarah dan penjual
Yang lebih pasti adalah hubungan antara ziarah dan wedang. Menaiki tangga Imogiri melelahkan, malam-malam ziarah dingin, dan peziarah yang turun membutuhkan minuman hangat. Warung-warung di kaki bukit menyeduh wedang secang dengan tambahan daun-daun rempah yang tumbuh di pekarangan: daun cengkih, daun pala, daun kayu manis. Bahan kering itu murah, mudah disimpan, dan bisa diseduh berulang. Lama-kelamaan paket kering wedang uwuh menjadi oleh-oleh: peziarah membawanya pulang, dan wedang uwuh menyebar ke seluruh Yogyakarta, lalu ke luar. Badan Otorita Borobudur mencatat Imogiri sebagai sentra wedang uwuh dengan puluhan produsen rumahan.

Yang ada di dalam "sampah"
Serutan secang yang memberi merah, jahe yang memberi hangat, daun cengkih dan daun pala yang memberi aroma lebih lembut daripada rempah keringnya, daun kayu manis, beberapa butir cengkih, dan gula batu. Diseduh, semuanya tenggelam ke dasar gelas dan tampak persis seperti sapuan halaman. Peminum yang tidak tahu akan menyisihkannya; peminum yang tahu membiarkannya, karena seduhan kedua dan ketiga masih merah. Resepnya di resep wedang uwuh.
Dari kaki bukit ke daftar warisan
Wedang uwuh kini dijual di toko oleh-oleh Malioboro, di kedai-kedai kota, dan dalam kemasan siap seduh sampai ke luar negeri. Sejumlah laporan menyebut wedang uwuh masuk daftar Warisan Budaya Takbenda; kami tidak dapat memastikan tahun dan tingkat penetapannya dari sumber primer, jadi kami mencatatnya dengan hati-hati. Yang pasti: di Imogiri, penjual generasi kedua dan ketiga masih menyeduhnya untuk orang yang baru turun dari makam.
Sumber & bacaan
- Sejarah Wedang Uwuh, Minuman Tradisional dari Bantul Yogyakarta Kompas.com.
- Sentra Wedang Uwuh Imogiri Bantul Badan Otorita Borobudur.
- Inilah Sejarah Lahirnya Minuman Tradisional Wedang Uwuh Tempo.

