Cremiera
Teh & Kopi·Yogyakarta

Kopi Joss

Bara arang dicelupkan ke gelas kopi panas, mendesis "joss", dan kopi tubruk biasa berubah menjadi tontonan. Dari angkringan di utara Stasiun Tugu.

Redaksi CremieraDitinjau Riset meja

Segelas kopi joss dengan bongkahan arang di dalamnya di angkringan Lik Man, Yogyakarta
Kopi joss di angkringan Lik Man, Yogyakarta. Ivan Lanin from Jakarta, Indonesia · CC BY-SA 2.0 · Commons
Profil minuman
Keluarga
Teh & kopi
Asal
Angkringan Lik Man, utara Stasiun Tugu, Yogyakarta
Disajikan
Panas, dengan bongkahan arang di dalam gelas
Bahan utama
Kopi bubuk kasar, gula, air mendidih, arang kayu yang membara
Rasa
Kopi tubruk manis dengan sentuhan asap, lebih "halus" menurut penikmatnya
Dikenal
Sekitar 1960-an; ditetapkan Warisan Budaya Takbenda DIY
Tempat
Angkringan
Susunankopi+arang membara
Ringkasan

Kopi joss adalah kopi tubruk manis yang, sesaat sebelum disajikan, dicemplungi sepotong arang kayu yang membara. Arang mendesis, buih naik, dan bunyi "joss" itulah yang memberi nama. Minuman ini lahir di angkringan Lik Man di utara Stasiun Tugu, Yogyakarta, sekitar 1960-an, dan sejak itu menjadi ikon angkringan Yogyakarta. Kopi joss ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Daerah Istimewa Yogyakarta.

Cerita lahirnya

Angkringan Lik Man berada di dekat stasiun, dan banyak pelanggannya pegawai kereta api asal Jawa Timur. Mereka biasa minum kopi kothok, kopi yang direbus bersama gula dan air dalam panci sampai mendidih, gaya Jawa Timur. Lik Man tidak membuat kopi kothok. Menurut cerita keluarga dan pelanggan lama, ia berimprovisasi: kopi tubruk biasa diberi bara arang dari tungku angkringannya supaya "matang" dan panas seperti kopi rebus. Seorang pelanggan berseru "joss!" saat arang mendesis, dan nama itu tinggal. Ceritanya diturunkan secara lisan; tahunnya, 1960-an, adalah perkiraan.

Cara membuat

  1. Kopi bubuk kasar dan gula diseduh air mendidih dalam gelas, gaya tubruk.
  2. Sepotong arang kayu yang benar-benar membara diambil dengan penjepit, dibersihkan dari abu, lalu dicelupkan ke gelas.
  3. Kopi mendesis dan berbuih. Arang boleh ditinggal di gelas atau diangkat.

Penikmatnya menyebut kopi joss lebih halus dan tidak terlalu asam; penjelasan populernya adalah arang menyerap sebagian asam kopi. Cremiera mencatat penjelasan itu tanpa mengujinya. Yang pasti, arangnya harus dari kayu keras dan benar-benar membara, bukan asap.

Angkringan sebagai ruang

Angkringan adalah gerobak makanan malam Yogyakarta: nasi kucing, sate usus, gorengan, dan minuman panas, dengan tikar dan bangku panjang. Kopi joss tidak bisa dipisahkan darinya. Di angkringan Lik Man dan angkringan-angkringan sekitar Stasiun Tugu, kopi joss diminum pelan, dan orang duduk berjam-jam. Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta menyebut kopi joss sebagai inovasi kuliner yang menjadi identitas budaya kota.

Sumber & bacaan

  1. Kopi Joss, Inovasi Kuliner yang Menjadi Identitas Budaya Kota Yogyakarta Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, 2026.
  2. Sejarah Kopi Joss Jogja, Kini Ditetapkan Jadi Warisan Budaya TakBenda IDN Times Jogja.