Wedang secang adalah minuman hangat dari seduhan serutan kayu secang (Caesalpinia sappan), biasanya bersama jahe, serai, dan gula batu. Warna merahnya berasal dari brazilin, pigmen dalam kayu secang yang larut dalam air panas. Rasanya lebih ringan daripada wedang jahe, dengan sepat halus yang khas.
Kayu pewarna yang jadi minuman
Secang adalah perdu berduri asal Asia Tenggara yang kayu terasnya berwarna merah. Sejak setidaknya abad ke-14 kayu ini diperdagangkan antarbangsa sebagai bahan pewarna, dipakai untuk kain dan batik, sebelum kalah oleh pewarna sintetis pada akhir abad ke-19. Di dapur Jawa kayu yang sama diserut tipis dan diseduh. Serutan yang bagus berwarna merah tua dan mewarnai air dalam hitungan menit; serutan yang pucat berarti lebih banyak kayu gubal daripada teras.
Cara menyeduh
- Segenggam kecil serutan secang, satu ruas jahe bakar yang digeprek, satu batang serai yang dimemarkan, dan gula batu secukupnya dimasukkan ke teko.
- Siram air mendidih, tutup, diamkan lima menit. Untuk warna lebih pekat, rebus sepuluh menit.
- Saring, sajikan panas. Dingin dengan es pun enak; warnanya tetap merah.
Secang bisa diseduh ulang dua sampai tiga kali.
Keluarga secang
Tiga minuman merah Jawa berbagi kayu yang sama. Wedang Uwuh adalah wedang secang yang ditambahi daun cengkih, daun pala, dan daun kayu manis. Bir Pletok adalah versi Betawi dengan rempah kering yang lebih banyak dan cara saji dikocok. Yang paling sederhana, secang dan jahe saja, adalah wedang secang.
Sumber & bacaan
- Secang Wikipedia (Indonesia): botani dan sejarah perdagangan.
- Secang | sepang (Caesalpinia sappan L.) pelengkap wedang uwuh Biodiversity Warriors, Yayasan KEHATI.



