Cremiera
Wedang & Rempah·Yogyakarta, Jawa Tengah

Wedang Ronde

Tangyuan yang menyeberang ke Jawa, bertemu jahe dan gula merah, dan menjadi wedang. Dijual dari gerobak di Yogyakarta, Semarang, dan Salatiga.

Redaksi CremieraDitinjau Riset meja

Semangkuk wedang ronde di pinggir Jalan Malioboro dengan bola ketan berwarna, kacang tanah, dan kuah jahe
Wedang ronde di Malioboro, Yogyakarta. Daniatin · CC BY-SA 4.0 · Commons
Profil minuman
Keluarga
Wedang & rempah
Asal
Adaptasi tangyuan Tionghoa; populer di Yogyakarta, Semarang, Salatiga
Disajikan
Panas, dalam mangkuk
Bahan utama
Tepung ketan, kacang tanah, gula, jahe, kolang-kaling, roti
Rasa
Manis-hangat jahe, gurih kacang
Tekstur
Ronde kenyal-lembut, isi kacang berbutir
Kerabat
Tangyuan (Tiongkok), wedang angsle (Malang), sekoteng
Susunanjahe+tepung beras & hunkwe+aren (enau)+ronde ketan+kacang tanah
Ringkasan

Wedang ronde adalah minuman hangat dari bola-bola tepung ketan berisi kacang tanah tumbuk dan gula (ronde) yang disajikan dalam kuah jahe manis, biasanya ditambah kacang tanah sangrai, kolang-kaling, dan potongan roti. Ronde adalah adaptasi tangyuan Tionghoa; kuah jahe gula merahnya yang menjadikannya Jawa.

Dari tangyuan ke ronde

Tangyuan adalah bola ketan dalam kuah manis yang di Tiongkok dimakan saat Festival Lentera dan perayaan keluarga; kuahnya bisa manis, bisa kaldu. Ketika resep ini sampai di Jawa lewat komunitas Tionghoa, kuahnya berganti menjadi rebusan jahe dan gula merah, bahan yang sudah menjadi dasar wedang di Jawa. Isian ronde juga bergeser ke kacang tanah, dan mangkuknya diisi tambahan yang sangat lokal: kolang-kaling dan roti tawar. Hasilnya minuman yang tidak ada di Tiongkok maupun di Jawa sebelumnya.

Nama ronde umumnya dikaitkan dengan kata Belanda rond, bulat. Ini masuk akal mengingat banyak kosakata dapur Jawa masa kolonial menyerap bahasa Belanda, tetapi kami tidak menemukan sumber yang menuntaskannya. Sementara wedang adalah kata Jawa untuk minuman panas; lihat Apa Arti Wedang?.

Pedagang wedang ronde dengan gerobak dan panci kuah jahe di malam hari
Pedagang wedang ronde. Gerobak dan panci jahe adalah pemandangan malam di Yogyakarta dan Semarang. SATELITBM · CC BY-SA 4.0 · Commons

Anatomi semangkuk ronde

  • Ronde. Adonan tepung ketan dan air hangat, diisi kacang tanah sangrai yang dihaluskan dengan gula, dibulatkan, direbus sampai mengapung. Pewarna merah muda atau hijau lazim untuk membedakan isi.
  • Kuah jahe. Jahe bakar digeprek, direbus dengan gula pasir atau gula merah, serai, dan pandan. Kuah ini yang menentukan: terlalu encer, ronde terasa hambar.
  • Pelengkap. Kacang tanah sangrai, kolang-kaling, potongan roti tawar; di sebagian gerobak ditambah tape atau selasih.

Resep ada di resep wedang ronde.

Kota-kota ronde

Yogyakarta, Semarang, dan Salatiga adalah tiga kota yang paling identik dengan ronde. Di Yogyakarta gerobak ronde berjejer di sekitar Malioboro dan alun-alun pada malam hari. Di Salatiga dan Semarang ada warung-warung ronde yang beroperasi puluhan tahun. Malang punya kerabatnya, wedang angsle, yang kuahnya santan, bukan jahe.

Sumber & bacaan

  1. Sejarah Wedang Ronde di Indonesia, Asimilasi Budaya Tionghoa dengan Nusantara Kompas.
  2. Menguak Sejarah Wedang Ronde, Pengaruh Akulturasi Budaya Tiongkok Merdeka.com.