Wedang ronde adalah minuman hangat dari bola-bola tepung ketan berisi kacang tanah tumbuk dan gula (ronde) yang disajikan dalam kuah jahe manis, biasanya ditambah kacang tanah sangrai, kolang-kaling, dan potongan roti. Ronde adalah adaptasi tangyuan Tionghoa; kuah jahe gula merahnya yang menjadikannya Jawa.
Dari tangyuan ke ronde
Tangyuan adalah bola ketan dalam kuah manis yang di Tiongkok dimakan saat Festival Lentera dan perayaan keluarga; kuahnya bisa manis, bisa kaldu. Ketika resep ini sampai di Jawa lewat komunitas Tionghoa, kuahnya berganti menjadi rebusan jahe dan gula merah, bahan yang sudah menjadi dasar wedang di Jawa. Isian ronde juga bergeser ke kacang tanah, dan mangkuknya diisi tambahan yang sangat lokal: kolang-kaling dan roti tawar. Hasilnya minuman yang tidak ada di Tiongkok maupun di Jawa sebelumnya.
Nama ronde umumnya dikaitkan dengan kata Belanda rond, bulat. Ini masuk akal mengingat banyak kosakata dapur Jawa masa kolonial menyerap bahasa Belanda, tetapi kami tidak menemukan sumber yang menuntaskannya. Sementara wedang adalah kata Jawa untuk minuman panas; lihat Apa Arti Wedang?.

Anatomi semangkuk ronde
- Ronde. Adonan tepung ketan dan air hangat, diisi kacang tanah sangrai yang dihaluskan dengan gula, dibulatkan, direbus sampai mengapung. Pewarna merah muda atau hijau lazim untuk membedakan isi.
- Kuah jahe. Jahe bakar digeprek, direbus dengan gula pasir atau gula merah, serai, dan pandan. Kuah ini yang menentukan: terlalu encer, ronde terasa hambar.
- Pelengkap. Kacang tanah sangrai, kolang-kaling, potongan roti tawar; di sebagian gerobak ditambah tape atau selasih.
Resep ada di resep wedang ronde.
Kota-kota ronde
Yogyakarta, Semarang, dan Salatiga adalah tiga kota yang paling identik dengan ronde. Di Yogyakarta gerobak ronde berjejer di sekitar Malioboro dan alun-alun pada malam hari. Di Salatiga dan Semarang ada warung-warung ronde yang beroperasi puluhan tahun. Malang punya kerabatnya, wedang angsle, yang kuahnya santan, bukan jahe.



