Aren atau enau (Arenga pinnata) adalah palem tinggi berbatang ijuk yang tumbuh di lereng-lereng lembap hampir seluruh Indonesia. Niranya, yang disadap dari mayang jantan, menjadi lahang bila diminum segar, gula aren bila dimasak, dan tuak bila difermentasi. Biji buahnya diolah menjadi kolang-kaling. Hampir tidak ada pohon lain yang menyumbang sebanyak ini pada minuman Nusantara.
Pohon dan umurnya
Aren tumbuh liar dan ditanam di ketinggian sampai sekitar 1.400 meter, menyukai lereng dan tepi sungai. Batangnya diselimuti ijuk hitam yang dipanen untuk sapu dan atap. Pohon mulai berbunga dan bisa disadap pada umur lima sampai delapan tahun, dengan masa produksi puncak sekitar umur sepuluh sampai dua puluh tahun. Setelah mayang terakhir habis disadap, pohon mati; aren berbunga sekali seumur hidup dalam rangkaian mayang dari atas ke bawah.
Nira dan hasilnya
Yang disadap adalah tangkai mayang jantan. Angka hasil nira sangat bervariasi menurut varietas, umur, dan musim: kajian menyebut belasan liter per pohon per hari pada masa puncak, dan satu varietas unggul di Sulawesi Utara tercatat di atas tiga puluh liter per mayang per hari dengan masa sadap lebih dari delapan puluh hari. Cara menyadapnya ada di nira.

Kolang-kaling
Buah aren muda dipetik bertandan, direbus atau dibakar untuk menghilangkan getah yang membuat gatal, bijinya dikeluarkan, lalu direndam air kapur beberapa hari sampai bening dan kenyal. Inilah kolang-kaling yang mengapung di bajigur, sekoteng, dan wedang ronde, serta menjadi bahan kolak dan es campur. Di Sunda disebut cangkaleng.
Satu pohon, banyak nama
Kawung di Sunda (dari sini "gula kawung"), jaka di Bali, seho atau akel di Minahasa, koli di Maluku, bagot di Batak Toba. Nama-nama ini muncul di halaman-halaman minuman Cremiera dan semuanya merujuk pohon yang sama.
Sumber & bacaan
- Pedoman Budidaya Aren (Arenga pinnata) Lampiran Peraturan Menteri Pertanian, 2014.
- Cara Mengolah Biji Buah Aren Menjadi Kolang Kaling Kompas Agri.








