Di Rote, pulau paling selatan Indonesia, musim kemarau bisa berlangsung delapan bulan. Tanahnya berkapur, hujan tidak bisa diandalkan, dan sawah hanya sebagian kecil. Yang tumbuh dengan senang hati di sana adalah lontar (Siwalan). Orang Rote menyebutnya pohon kehidupan, dan itu bukan kiasan: pada musim kering, keluarga-keluarga di Rote dan Sabu bertahan dengan meminum nira lontar sebagai pengganti makanan, pagi dan sore.
Pekerjaan naik pohon
Menyadap adalah pekerjaan yang dimulai jauh sebelum nira menetes. Mayang, tandan bunga jantan, harus "dilatih": dipukul-pukul dan diayun setiap hari selama berminggu-minggu sampai jaringannya lunak, baru ujungnya diiris. Setelah itu penyadap naik dua kali sehari, pagi dan sore, sepanjang musim: menurunkan bumbung yang penuh, mengiris ulang permukaan mayang setipis mungkin agar tetap menetes, memasang bumbung baru. Lontar bisa lebih dari dua puluh meter; aren tumbuh di lereng dan tepi jurang. Di Tapanuli, paragat yang menyadap aren di tebing adalah pekerjaan yang dihormati sekaligus dikhawatirkan. Di Tembok, Buleleng, seorang penyadap lontar yang hampir delapan puluh tahun masih memanjat dengan kekuatan tangan dan kaki yang dilatih tiga puluh tahun.

Haik
Di Rote, nira ditampung dan dijual dalam haik, wadah yang dianyam dari daun lontar muda, berbentuk seperti ember dengan pegangan. Perempuan menjual nira dari dua haik yang dijinjing, dan haik pula yang dipakai menyimpan gula air, nira yang dimasak sampai kental dan bisa bertahan berbulan-bulan. Dalam satu pohon: minuman, wadahnya, dan makanan cadangannya.

Empat kehidupan
Nira yang turun pagi hari diminum langsung: manis, dingin oleh embun, sedikit berbuih. Di Sunda itu lahang, di Tuban legen, di Bali tuak manis. Nira yang tidak habis dimasak menjadi gula: berjam-jam di wajan sampai kental, lalu dicetak, atau di Rote disimpan cair dalam haik. Nira yang dibiarkan menjadi tuak, dan tuak yang disuling menjadi sopi. Empat kehidupan dari satu tetesan, dan penyadap yang memutuskan nira pagi ini akan menjadi apa.
Pohon yang memberi sekali
Aren (Enau) berbunga sekali seumur hidup, dari mayang teratas ke bawah, dan setelah mayang terakhir habis disadap, pohonnya mati. Batangnya kemudian dibelah untuk sagu aren, patinya menjadi untaian dawet Jabung dan cindua Minang. Ijuknya menjadi sapu dan atap, buahnya kolang-kaling. Tidak ada yang tersisa. Lontar lebih panjang umur dan bisa disadap puluhan tahun, tetapi keduanya sama: pohon yang memberi lebih dari yang diminta.
Yang terancam
Penyadap makin tua dan anak-anak mereka makin jarang mau memanjat. Di Tuban, legen bersaing dengan minuman kemasan; di Rote, lontar ditebang untuk lahan; di Bali, tuak manis kalah oleh minuman lain. Yang hilang bila penyadapan berhenti bukan hanya minuman, melainkan gula, cuka, sagu, dan pengetahuan tentang cara membaca mayang. Cremiera menuliskan ini supaya setidaknya ada catatannya.
Sumber & bacaan
- Pohon Lontar, Pohon Kehidupan di Nusa Tenggara Timur RRI.
- Lontar – Pohon Kehidupan Mama Aleta Fund.
- Hikayat Tuak tatkala.co; penyadap lontar di Tembok, Buleleng.
- Lapo tuak Wikipedia (Indonesia); paragat.


