Cremiera
Nira & Fermentasi·Sumatra Utara

Tuak Batak

Nira aren yang dipahitkan kulit kayu raru, dituang di lapo, dan diminum sambil bicara tentang marga, politik, dan harga kopi.

Redaksi CremieraDitinjau Riset meja

Foto arsip Tropenmuseum: penyadap nira memanjat pohon aren di Tanah Karo, Sumatra Utara
Penyadap aren di Tanah Karo, foto arsip Tropenmuseum. Di Karo dan Toba, penyadap disebut paragat. Unknown authorUnknown author · CC BY-SA 3.0 · Commons
Profil minuman
Keluarga
Nira & fermentasi
Daerah
Tapanuli, Toba, Samosir, Karo, Simalungun; diaspora Batak di Medan, Jakarta, dan kota lain
Bahan dasar
Nira aren (kadang kelapa) dan kulit kayu raru
Proses
Nira disadap pagi dan sore, diberi raru, difermentasi jam sampai sehari
Karakter
Putih keruh, asam-manis, pahit raru, berbuih
Jenis
Tuak na tonggi (manis, ~1–3%) dan tuak raru (pahit, ~3–5%)
Tempat
Lapo tuak
Susunannira+aren (enau)+raru
Ringkasan

Tuak Batak adalah nira Aren (Enau) yang difermentasi dengan tambahan raru, kulit kayu pahit dari pohon Cotylelobium atau Vatica, lalu diminum di lapo tuak, warung yang sekaligus ruang pertemuan. Penyadapnya disebut paragat. Tuak hadir dalam jamuan adat Batak dan dalam kehidupan sehari-hari sebagai minuman pergaulan.

Paragat, orang yang naik pohon

Maragat adalah kata Batak untuk menyadap, dan paragat orang yang melakukannya. Pekerjaannya dimulai jauh sebelum nira menetes: mayang aren dipukul dan diayun setiap hari selama berminggu-minggu sampai jaringannya lunak, lalu ujungnya diiris dan bumbung bambu digantung. Paragat naik pagi dan sore untuk mengganti bumbung dan mengiris ulang. Di Tapanuli, banyak pohon aren tumbuh di lereng terjal dan tepi jurang, sehingga pekerjaan ini berisiko. Nira yang turun pagi hari umumnya lebih manis; yang sore lebih cepat asam.

Raru, kulit kayu yang menentukan

Yang membedakan tuak Batak dari nira terfermentasi di daerah lain adalah raru. Raru adalah kulit kayu dari beberapa jenis pohon hutan Sumatra, yang teridentifikasi antara lain Cotylelobium melanoxylon, Cotylelobium lanceolatum, dan Vatica perakensis. Kulitnya kaya tanin, flavonoid, dan saponin. Sepotong raru dimasukkan ke bumbung nira sejak di pohon atau saat ditampung. Fungsinya tiga: memberi pahit yang menjadi ciri tuak Batak, mendorong fermentasi sehingga alkoholnya lebih tinggi, dan memperlambat nira menjadi cuka. Tanpa raru, hasilnya disebut tuak na tonggi, tuak manis.

Dua tuak Batak menurut kajian di Aceh Utara
Tuak na tonggiTuak raru
BahanNira aren sajaNira aren + kulit kayu raru
RasaManis, sedikit asamPahit, asam-manis
Kadar alkohol (kajian)Sekitar 1–3%Sekitar 3–5%
Siapa yang minumLebih luas, termasuk yang menghindari pahitPeminum tuak "sejati" di lapo

Lapo tuak, warung yang bukan sekadar warung

Lapo tuak adalah warung sederhana, sering hanya bangku panjang dan meja kayu, tempat tuak dijual bersama makanan kecil. Fungsinya jauh lebih besar dari itu. Di lapo, orang Batak martarombo, saling menelusuri marga dan silsilah untuk menemukan hubungan kekerabatan, lalu bicara politik, harga hasil bumi, dan urusan kampung. Sejumlah penulis menyamakannya dengan agora Yunani: ruang publik tempat pendapat dibentuk. Gitar dan lagu-lagu Batak hampir selalu ada. Di daerah asal seperti Tapanuli, lapo menjaga fungsi sosial ini; di perantauan, sebagian lapo bergeser menjadi tempat minum semata.

Suasana lapo tuak: orang-orang duduk di bangku kayu sambil minum tuak dan bercakap
Suasana lapo tuak. Halak Batak · CC BY-SA 4.0 · Commons

Tuak dalam adat

Dalam sejumlah upacara adat Batak, tuak disajikan sebagai bagian dari jamuan dan sebagai lambang penghormatan, misalnya saat menyambut tamu atau dalam rangkaian pesta. Kami tidak merinci ritual tertentu di sini karena praktiknya berbeda antara Toba, Karo, Simalungun, dan Pakpak, dan sumber yang kami miliki tidak cukup rinci untuk membedakannya dengan adil. Yang pasti: tuak bukan hanya minuman warung, melainkan bagian dari tata krama.

Karo dan Nias

Di Tanah Karo, penyadapan aren sudah difoto Tropenmuseum pada awal abad ke-20, dan tuak tetap menjadi minuman pergaulan. Di Pulau Nias, tuak dari nira kelapa dan aren disebut tuo; yang disuling disebut tuo nifarõ. Sebuah liputan menyebut dua puluh liter tuak mentah dari sepuluh pohon kelapa dan dua pohon aren menghasilkan sekitar lima botol sulingan setelah enam jam. Di Nias tuak hadir dalam pernikahan dan sebagai lambang rekonsiliasi.

Sumber & bacaan

  1. Lapo tuak Wikipedia (Indonesia).
  2. Kearifan Lokal Minuman Tradisional Tuak Aceh Anthropological Journal.
  3. Aktivitas Antioksidan dan Toksisitas Ekstrak Kulit Kayu Raru (Cotylelobium sp.) Jurnal Penelitian Hasil Hutan.
  4. Menengok Lapo Tuak, Tempat Orang Batak Bercakap dan Menghibur Diri Good News From Indonesia.
  5. Mengenal Tuo Nafaro, Tuak Khas Nias yang Makin Langka IDN Times Sumut.