Bir pletok adalah minuman rempah khas Betawi yang dibuat dengan merebus jahe, serutan kayu secang, serai, kayu manis, cengkih, kapulaga, pala, dan lada dengan gula. Tidak mengandung alkohol. Warna merahnya dari secang. Nama "bir" lazim dijelaskan sebagai jawaban orang Betawi atas bir Belanda; "pletok" adalah tiruan bunyi saat minuman dikocok dalam bambu atau botol.
Mengapa disebut bir, dan apa itu pletok
Penjelasan yang paling diterima: pada masa kolonial, orang Betawi melihat orang Belanda minum bir untuk menghangatkan badan dan merayakan sesuatu. Sebagai muslim mereka tidak minum alkohol, maka dibuatlah minuman rempah yang efeknya sama hangatnya, dan dengan sedikit gurau dinamai bir. Ada versi lain yang mengaitkan "bir" dengan kata Arab untuk sumber air; kami menganggapnya lemah karena tidak ada jejak pemakaian kata itu di Betawi.
"Pletok" adalah onomatope, dan yang ditiru ada beberapa versi: bunyi bambu berisi bir pletok yang dikocok bersama es batu supaya berbuih, bunyi rempah yang digeprek, atau bunyi tutup botol yang dibuka. Yang pertama paling banyak diceritakan penjual. Uraian panjangnya ada di Mengapa Bir Pletok Disebut Bir?.
Bahan dan warna merahnya

Dasar bir pletok adalah rebusan jahe dan gula. Yang membuatnya "bir pletok" dan bukan wedang jahe adalah dua hal: secang dan susunan rempah keringnya. Kayu secang mengandung brazilin, pigmen yang larut dalam air panas dan memberi warna merah. Kayu manis, cengkih, kapulaga, pala, dan lada memberi aroma yang lebih kompleks daripada wedang jahe biasa; serai dan daun pandan atau daun jeruk menambah segar. Komposisi persisnya berbeda antar pembuat, dan itu wajar. Resep dasar ada di resep bir pletok.
Sejarah singkat
Tidak ada tanggal kelahiran yang pasti. Bir pletok muncul pada masa kolonial dan, menurut sejumlah sumber, sudah dijual pedagang keliling di Batavia sekitar 1900. Popularitasnya menurun setelah minuman ringan Barat membanjiri Jakarta pada 1970-an, lalu diangkat kembali lewat festival dan pekan raya. Pada 2014 bir pletok ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia, dan peraturan gubernur DKI Jakarta menempatkannya di antara delapan ikon budaya Betawi. Cerita panjangnya ada di Bir Pletok, Bir yang Tidak Memabukkan.
Panas atau dingin?
Keduanya. Secara tradisional bir pletok diminum hangat di malam hari, terutama saat musim hujan. Sejak es mudah didapat, versi dinginnya, dikocok dengan es dalam bambu sampai berbuih, menjadi cara penyajian yang paling dikenal. Dalam botol, bir pletok bisa disimpan beberapa hari di lemari es.

Sumber & bacaan
- Bir pletok Wikipedia (Indonesia), termasuk status WBTb 2014 dan Pergub DKI.
- Asal-usul Bir Pletok, Bir Tanpa Alkohol Khas Betawi Kompas.com.
- Bir Pletok: Wujud Religiusitas Masyarakat Betawi pada Masa Kolonial Belanda NU Online Jakarta.




