Batavia abad ke-19 adalah kota dua dunia. Di satu sisi, rumah-rumah besar orang Eropa dengan pesta yang mengalirkan bir dan anggur. Di sisi lain, kampung-kampung Betawi yang muslim dan tidak minum alkohol, tetapi melihat semuanya: bir yang diminum untuk menghangatkan badan di malam yang lembap, bir yang dibuka saat ada yang dirayakan. Dari pengamatan itu, menurut cerita yang diwariskan orang Betawi, lahir sebuah jawaban.
Jawaban dari dapur
Yang mereka punya adalah rempah. Jahe untuk hangat, kayu secang untuk warna merah yang meriah, serai, kayu manis, cengkih, kapulaga, pala, dan lada untuk aroma yang kaya. Direbus dengan gula, hasilnya minuman yang menghangatkan seperti bir, berwarna seperti anggur, dan bisa diminum semua orang. Namanya diambil dari yang ditiru: bir. Dan supaya jelas ini bir yang lain, ditambahkan "pletok", tiruan bunyi saat minuman dikocok dalam ruas bambu bersama es sampai berbuih, atau menurut versi lain, bunyi tutup botol dan bunyi rempah yang digeprek.
Sejumlah penulis menempatkan bir pletok dalam kerangka yang lebih besar: ini bukan sekadar tiruan, melainkan pernyataan. Orang Betawi bisa merayakan dan menghangatkan diri tanpa melanggar keyakinannya, dan bisa melakukannya dengan bahan yang justru menjadi alasan Belanda datang ke Nusantara. Tafsir ini menarik, dan kami memuatnya sebagai tafsir.
Pedagang keliling, 1900
Tanggal lahir bir pletok tidak tercatat. Yang bisa dikatakan: pada sekitar 1900 bir pletok sudah dijual pedagang keliling di Batavia, dibawa dalam botol atau bumbung, diminum hangat di malam hari dan terutama di musim hujan. Ia menjadi minuman hajatan Betawi, disajikan pada pernikahan dan khitanan bersama kerak telor dan dodol. Sepanjang paruh pertama abad ke-20, bir pletok adalah minuman biasa di kampung-kampung Betawi.
Surut dan bangkit
Pada 1970-an, minuman ringan bersoda dan minuman kemasan membanjiri Jakarta, dan kampung-kampung Betawi sendiri terdesak pembangunan kota. Bir pletok surut bersama penjualnya. Yang membawanya kembali adalah upaya sadar: Pekan Raya Jakarta dan festival budaya Betawi mulai menampilkan bir pletok sebagai ikon, produsen rumahan mengemasnya dalam botol, dan Perkampungan Budaya Betawi di Setu Babakan menjadikannya sajian wajib. Pada 2014 bir pletok ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia, dan peraturan gubernur DKI Jakarta memasukkannya dalam delapan ikon budaya Betawi.

Dari panas ke dingin
Bir pletok generasi awal diminum hangat. Versi dingin, dikocok dengan es sampai berbuih, adalah anak dari zaman es batu, yang di Batavia baru mudah didapat setelah pabrik-pabrik es berdiri pada akhir abad ke-19. Buih dari kocokan itulah yang membuat bir pletok dingin tampak paling mirip bir, dan mungkin alasan mengapa versi ini yang kini paling dikenal. Cerita es di Batavia ada di Ketika Es Tiba di Batavia.
Sumber & bacaan
- Bir pletok Wikipedia (Indonesia).
- Bir Pletok: Wujud Religiusitas Masyarakat Betawi pada Masa Kolonial Belanda NU Online Jakarta.
- Hikayat Bir Pletok, "Bir" Khas Betawi PinterPolitik.



