Nusa Tenggara Timur adalah wilayah paling kering di Indonesia, dan lontar (Siwalan) adalah pohon yang paling tahan terhadap itu. Di Rote dan Sabu, semua bagian pohon dipakai: daunnya jadi atap dan wadah (haik), batangnya jadi kayu, dan niranya jadi minuman, gula, dan tuak. Pada musim kemarau panjang, nira lontar diminum sebagai pengganti makanan; orang Rote menyebut nira segar itu tuak tanpa konotasi memabukkan. Nira yang dimasak menjadi gula lontar cair dan cetak; yang difermentasi menjadi tuak; dan yang disuling menjadi sopi.
Di Flores, sulingan yang sama disebut moke, dan di Sikka dan Maumere moke adalah bahasa adat: dituang untuk menyambut tamu, mengesahkan perkawinan, dan mendamaikan pihak yang bersengketa.
Minuman yang dibahas
- Nira & FermentasiTuakSatu kata, banyak minuman: dari nira segar sampai hasil fermentasi, tergantung daerahnya.
- Nira & FermentasiSopi & MokeSulingan tuak lontar dan aren dari Maluku dan Flores yang lekat dengan adat.
Pohon kehidupan
Cerita penyadap lontar Rote, perempuan penjual nira dengan haik di kepala, dan bagaimana satu pohon menghidupi pulau, ada di Nira, Cairan yang Menghidupi Pulau-Pulau Kering.
Kopi Flores
Flores juga penghasil kopi arabika Bajawa dan Manggarai yang dikenal luas. Cara minum kopinya belum kami riset dan belum masuk Cremiera.
