Cremiera
Hamparan pohon lontar di Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur
Bali & Nusa Tenggara

Nusa Tenggara Timur

Di pulau-pulau yang kemaraunya panjang, orang bertahan dengan meminum nira lontar. Sisanya jadi gula, tuak, dan moke yang dituang untuk adat.

Redaksi CremieraDitinjau Riset meja

Pulau
Bali & Nusa Tenggara
Kelompok budaya
Rote, Sabu, Timor (Dawan), Flores (Sikka dan lainnya), Sumba
Bahan khas
Nira lontar dan aren
Ruang sosial
Upacara adat, penyambutan tamu, penyelesaian sengketa

Gbr. 01 Lontar di Rote Ndao. Mujiono Leo · CC BY-SA 3.0 · Commons

Nusa Tenggara Timur adalah wilayah paling kering di Indonesia, dan lontar (Siwalan) adalah pohon yang paling tahan terhadap itu. Di Rote dan Sabu, semua bagian pohon dipakai: daunnya jadi atap dan wadah (haik), batangnya jadi kayu, dan niranya jadi minuman, gula, dan tuak. Pada musim kemarau panjang, nira lontar diminum sebagai pengganti makanan; orang Rote menyebut nira segar itu tuak tanpa konotasi memabukkan. Nira yang dimasak menjadi gula lontar cair dan cetak; yang difermentasi menjadi tuak; dan yang disuling menjadi sopi.

Di Flores, sulingan yang sama disebut moke, dan di Sikka dan Maumere moke adalah bahasa adat: dituang untuk menyambut tamu, mengesahkan perkawinan, dan mendamaikan pihak yang bersengketa.

Minuman yang dibahas

Pohon kehidupan

Cerita penyadap lontar Rote, perempuan penjual nira dengan haik di kepala, dan bagaimana satu pohon menghidupi pulau, ada di Nira, Cairan yang Menghidupi Pulau-Pulau Kering.

Kopi Flores

Flores juga penghasil kopi arabika Bajawa dan Manggarai yang dikenal luas. Cara minum kopinya belum kami riset dan belum masuk Cremiera.

Sumber & bacaan

  1. Pohon Lontar, Pohon Kehidupan di Nusa Tenggara Timur RRI.
  2. Ethnobotany of Lontar (Borassus flabellifer L.) in Tuamese Village, East Nusa Tenggara Kajian etnobotani.
  3. Mengenal Moke, Minuman Tradisional dan Simbol Adat di Sikka Flores Kompas Travel.