Cremiera
Petani memanjat pohon lontar untuk menyadap nira di Tianyar, Karangasem, Bali
Bali & Nusa Tenggara

Bali

Tuak yang manis di pagi hari dan tua di sore hari, loloh sebagai jamu, dan kelapa muda yang diserut untuk es. Bali minum dari pohonnya sendiri.

Redaksi CremieraDitinjau Riset meja

Pulau
Bali & Nusa Tenggara
Kelompok budaya
Bali
Bahan khas
Nira jaka (aren), nyuh (kelapa), ental (lontar); daun kecemcem; kelapa muda
Ruang sosial
Banjar, upacara, warung desa

Gbr. 01 Penyadap lontar di Tianyar, Karangasem. Nira ini menjadi tuak dan gula. Imadedana · CC BY-SA 4.0 · Commons

Di Bali, tuak adalah kata untuk seluruh perjalanan nira. Tuak manis adalah nira yang baru turun, diminum pagi tanpa alkohol yang berarti. Dengan laru (sabut kelapa, kulit kesambi, kulit nangka, atau sabut buah lontar) dan waktu, ia menjadi tuak wayah, tuak tua; dan dengan penyulingan, arak. Di Buleleng timur dan Karangasem yang kering, penyadap lontar naik pohon dua kali sehari. Tradisi metuakan di Karangasem, minum tuak bersama di banjar, menjadikan tuak bagian dari pergaulan, bukan sekadar minuman. Semua ini di tuak.

Di luar nira, Bali punya loloh, minuman daun yang setara jamu; loloh cemcem dari Penglipuran yang paling dikenal. Dan es kuwut, es kelapa muda dengan jeruk nipis, adalah minuman dingin Bali yang tidak memakai santan.

Minuman yang dibahas

Tuak dan upacara

Tuak hadir dalam sejumlah upacara dan pertemuan adat Bali sebagai bagian dari sesajen dan jamuan. Kami tidak merinci tata caranya karena berbeda antar desa adat. Cerita tuak dalam pergaulan ada di Tuak di Meja Adat: Dari Lapo sampai Gawai.

Sumber & bacaan

  1. Hikayat Tuak tatkala.co.
  2. Metuakan, Tradisi Minum Tuak di Karangasem BaleBengong.
  3. Loloh Cemcem minuman khas Desa Penglipuran Ceraken Kebudayaan Bali.