Kalau Anda hanya membaca definisinya, tuak adalah nira yang difermentasi. Kalau Anda duduk di tempat tuak diminum, definisi itu tidak cukup. Di lima tempat yang berbeda, tuak menjalankan lima fungsi yang berbeda, dan hampir tidak satu pun tentang mabuk.
Lapo tuak: ruang bicara
Di Tapanuli dan Toba, lapo tuak adalah warung dengan bangku panjang tempat tuak Batak dituang dari jeriken ke gelas. Yang terjadi di sana adalah martarombo: dua orang yang baru bertemu saling menelusuri marga dan silsilah sampai menemukan hubungan kekerabatan, dan setelah itu bicara apa saja: politik, harga kopi dan kemenyan, urusan kampung. Gitar dan lagu Batak selalu ada. Sejumlah penulis menyamakan lapo dengan agora; yang jelas, lapo adalah tempat pendapat dibentuk di luar gereja dan balai adat. Di perantauan, lapo Batak di Jakarta atau Medan sebagian menjaga fungsi ini dan sebagian menjadi tempat minum semata, dan orang Batak sendiri yang paling sering mengeluhkan pergeseran itu.
Metuakan: minum bersama di banjar
Di Karangasem, Bali, metuakan adalah kebiasaan minum tuak bersama-sama, di banjar atau di halaman rumah, dengan satu gelas yang diedarkan atau gelas-gelas kecil yang diisi bergantian. Ada tata kramanya: yang menuang, urutan yang minum, dan percakapan yang mengiringi. Tuak juga hadir dalam sesajen sejumlah upacara. Esai di tatkala.co menggambarkan tuak di Bali sebagai lambang solidaritas sosial dan kemakmuran, bukan alat mabuk, dan mencatat bahwa tuak sudah hadir dalam pesta dan pertunjukan istana sejak berabad-abad lalu.
Bumbung ballo: keluarga yang berkumpul
Di Toraja, upacara kematian Rambu Solo dan upacara syukur Rambu Tuka mengumpulkan keluarga besar selama berhari-hari, dan ballo Toraja diedarkan dalam bumbung bambu di antara tamu dan tuan rumah. Foto-foto arsip dari 1960-an memperlihatkan laki-laki Toraja mengisi bumbung dan minum ballo pada sebuah pernikahan. Ballo di pesta adalah tanda keluarga sedang berkumpul, dan menolaknya di depan tuan rumah bukan hal yang lazim.

Tuak Gawai: tamu yang disambut
Di Kalimantan Barat, tuak Dayak dibuat dari beras ketan sebelum Gawai, pesta panen, dan disuguhkan kepada tamu yang datang ke rumah panjang. Tuak di sini adalah bahasa penerimaan: tamu diberi tuak, dan menolaknya dianggap tidak sopan. Warga Dayak sendiri menasihati pelancong untuk mencicip sedikit saja bila tidak terbiasa. Tuak Gawai tidak dijual sehari-hari; ia datang bersama pesta dan hilang setelahnya.
Moke: sengketa yang ditutup
Di Sikka, Flores, moke adalah bahasa hukum adat. Tamu disambut moke, perkawinan dibuka moke, dan ketika ada persoalan antar keluarga atau antar kampung, moke dituang untuk menandai bahwa persoalan sudah selesai. Di Maluku, sopi menjalankan fungsi yang sama untuk marga dan soa. Di Nias, tuak adalah lambang rekonsiliasi. Di tiga tempat yang berjauhan ini, minuman yang sama dipakai untuk hal yang sama: mengesahkan kesepakatan.
Polanya
Lima tempat, lima fungsi: ruang bicara, solidaritas, kebersamaan keluarga, penerimaan tamu, pengesahan kesepakatan. Yang tidak ada dalam daftar itu adalah minum sendirian. Tuak dalam tradisi Nusantara hampir selalu diminum bersama, dengan tata cara, di waktu tertentu. Itu yang membedakan warisan dari kebiasaan, dan itu yang layak dicatat sebelum berubah.
Sumber & bacaan
- Lapo tuak Wikipedia (Indonesia).
- Metuakan, Tradisi Minum Tuak di Karangasem BaleBengong.
- Hikayat Tuak tatkala.co.
- Dear Pelancong, Jangan Tolak Suguhan Minuman di Acara Adat Dayak! detikNews.
- Moke, Minuman Adat NTT Simbol Penerimaan atau Persaudaraan detikBali.





