Legen adalah nira segar dari pohon siwalan atau lontar (Siwalan) (Borassus flabellifer), minuman khas pesisir utara Jawa Timur, terutama Tuban, Lamongan, dan Gresik. Namanya dari kata Jawa legi, manis. Legen disadap dari mayang jantan ke bumbung bambu satu ruas dan diminum tanpa dimasak. Bila dibiarkan berfermentasi, legen menjadi tuak.
Pohon di tanah kering
Siwalan tumbuh di tempat yang tidak disukai aren: dataran rendah pesisir yang panas dan kering. Itu sebabnya legen adalah minuman Pantura, dari Tuban ke Madura, bukan minuman pegunungan. Pohonnya tinggi lurus dengan daun kipas, dan penyadap memanjatnya dengan tangga bambu atau takik di batang. Mayang jantan dijepit dan diiris, dan nira ditampung dalam bumbung bambu satu ruas yang digantung. Bumbung diturunkan pagi dan sore.
Di Tuban, hampir setiap pekarangan di desa-desa penghasil legen punya siwalan, dan legen dijual di tepi jalan raya Pantura dalam bumbung atau botol. Musim kemarau adalah musim legen terbaik.
Rasa, buah, dan es dawet siwalan
Legen yang segar terasa manis bersih dan sedikit berbuih, lebih ringan daripada lahang aren. Pasangannya adalah buah siwalan sendiri: biji muda yang dagingnya bening, kenyal, dan berair, dijual bersama legen. Kedua bahan ini bertemu dalam es dawet siwalan, dawet dengan potongan siwalan yang kadang dimaniskan legen alih-alih gula. Lihat halaman dawet.
Garis tipis menuju tuak
Legen dan tuak siwalan adalah cairan yang sama pada jam yang berbeda. Nira mulai berfermentasi dalam hitungan jam; legen yang dibeli pagi dan disimpan sampai malam sudah menjadi tuak muda, asam dan sedikit beralkohol. Sebagian penjual sengaja memisahkan keduanya: bumbung yang dibersihkan untuk legen, bumbung "lama" untuk tuak. Pembeli legen sebaiknya memastikan legennya masih manis dan tidak menyengat. Uraiannya ada di Apa Beda Nira dan Tuak?.
Sumber & bacaan
- Legen, Minuman Khas Wilayah Pantai Utara (Pantura) 1001 Indonesia.
- Siwalan atau Lontar PosKupang Wiki; sebaran dan nama lokal.
- Es Dawet Siwalan Pusaka Jawatimuran.



