Secang (Caesalpinia sappan, kini Biancaea sappan) adalah perdu berduri asal Asia Tenggara yang kayu terasnya berwarna merah. Serutan kayunya, bila diseduh air panas, melepaskan brazilin, pigmen merah yang mewarnai wedang secang, wedang uwuh, dan bir pletok. Rasanya sendiri ringan dan sedikit sepat; secang lebih banyak memberi warna daripada rasa.
Kayu dagang
Secang adalah komoditas tua. Catatan perdagangan menunjukkan kayu secang diperdagangkan setidaknya sejak abad ke-14 sebagai bahan pewarna merah untuk kain, termasuk batik, dan menjadi barang dagangan antarbangsa sampai akhir abad ke-19, sebelum pewarna sintetis menggantikannya. Di Jawa, kayu yang sama masuk ke dapur: diserut dan diseduh. Di Cirebon, secang dipakai dalam minuman tradisional desa; di Betawi, ia menjadi tanda tangan bir pletok.
Mengapa merah
Brazilin adalah senyawa dalam kayu secang yang bila teroksidasi menjadi brazilein, pigmen merah yang larut dalam air panas. Warnanya berubah menurut keasaman: lebih merah muda di larutan asam, lebih merah tua sampai keunguan di larutan basa. Karena itu wedang secang yang diberi jeruk nipis warnanya berubah, sesuatu yang bisa dijadikan permainan di meja.
Mengenali serutan yang bagus
Serutan secang yang bagus berwarna merah tua sampai cokelat kemerahan dan mewarnai air dalam beberapa menit. Serutan yang pucat kekuningan berarti lebih banyak kayu gubal (bagian luar) daripada teras. Secang bisa diseduh ulang dua sampai tiga kali; warnanya memudar tetapi masih ada.
Sumber & bacaan
- Secang Wikipedia (Indonesia).
- Pemanfaatan Kayu Secang (Caesalpinia sappan L.) sebagai Minuman Tradisional di Desa Pamijahan, Kabupaten Cirebon Kajian etnobotani.



