Serai (Cymbopogon citratus) adalah rumput tropis yang pangkal batangnya beraroma jeruk. Dalam minuman, batang serai dimemarkan dan direbus bersama jahe untuk memberi kesegaran pada bandrek, bir pletok, wedang jahe, dan air guraka. Serai hampir tidak memberi rasa; tugasnya adalah aroma.
Bagian yang dipakai
Yang beraroma adalah pangkal batang yang putih sampai hijau muda, sekitar sepuluh sampai lima belas sentimeter dari akar. Daun hijaunya yang panjang hampir tidak berbau dan biasanya dibuang atau dipakai untuk mengikat. Lapisan terluar yang kering dikupas. Serai yang segar terasa padat dan berbau tajam saat dipatahkan.
Memarkan, jangan cincang
Untuk minuman, serai dimemarkan dengan punggung pisau atau ulekan sampai seratnya pecah, lalu dimasukkan utuh ke rebusan dan diangkat sebelum disajikan. Mencincangnya membuat serpihan serat ikut ke gelas dan rasa "rumput" menonjol. Satu batang cukup untuk satu liter wedang.
Mengapa serai ada di hampir semua wedang
Jahe yang direbus lama bisa terasa berat dan pahit. Aroma jeruk serai memberi kesan ringan dan segar yang menyeimbangkannya. Itulah sebabnya serai muncul dari Bandung sampai Ternate. Dalam bir pletok, serai adalah salah satu dari tiga bahan yang hampir tidak pernah absen bersama jahe dan secang.





