Kalau Jawa adalah pulau santan dan gula aren, Sumatra adalah pulau kopi, teh, dan telur. Perkebunan kopi dan teh masa kolonial di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat meninggalkan kebiasaan minum yang khas: teh dikocok dengan kuning telur di lapau Minang, kopi disajikan terbalik di Meulaboh, daun kopi disangrai untuk kawa daun. Di pedalaman Tapanuli, nira aren menjadi tuak yang diminum di lapo, ruang bicara orang Batak. Dan di Riau, mangga kuini bertemu santan dalam es yang namanya diambil dari legenda.
Minuman yang dibahas
- Es & SantanEs Laksamana MengamukKuini, santan, dan gula dalam segelas legenda dari Riau.
- Nira & FermentasiTuak BatakNira aren yang difermentasi dengan kulit kayu raru, diminum di lapo tuak.
- Teh & KopiTeh TaluaTeh dengan kuning telur kocok yang berlapis lima. Minuman lapau Minangkabau.
- Teh & KopiKawa DaunSeduhan daun kopi sangrai dalam tempurung kelapa. Cara Minang menikmati kopi tanpa biji.
- Teh & KopiKupi KhopKopi dalam gelas terbalik dari Meulaboh, Aceh Barat. Diminum lewat piring.
Wilayah
- Sumatra Utara: lapo tuak, teh susu telur, bandrek Medan.
- Sumatra Barat: teh talua, kawa daun, cindua langkok.
- Aceh: kupi khop Meulaboh, kopi sanger, kopi Gayo. Belum punya halaman sendiri; lihat kupi khop.
- Riau: es laksamana mengamuk, es air mata pengantin. Lihat es laksamana mengamuk.
Pola yang terlihat
Tiga hal berulang di Sumatra. Pertama, warung sebagai lembaga: lapau di Minang, lapo di Batak, warung kopi di Aceh dan Medan adalah tempat kabar dan pendapat beredar, dan minumannya menyesuaikan diri dengan obrolan panjang. Kedua, telur: teh talua, TST, dan bandrek telur memakai kuning telur kocok, sesuatu yang di Jawa hanya muncul pada STMJ. Ketiga, kopi diperlakukan dengan lebih banyak cara daripada di pulau mana pun: disaring, dibalik, disangrai daunnya.
