Cremiera
Kawa daun dalam tempurung kelapa dengan latar Ngarai Sianok, Sumatra Barat
Pulau & gugusan

Sumatra

Pulau kopi dan teh, telur yang dikocok ke dalam gelas, dan nira aren yang dipahitkan kulit kayu. Sumatra minum dengan cara yang tidak ada di Jawa.

Redaksi CremieraDitinjau Riset meja

Provinsi yang dibahas
Sumatra Utara, Sumatra Barat; Aceh dan Riau lewat minumannya
Bahan khas
Kopi, teh, telur itik, nira aren, kuini
Suhu
Sebagian besar panas
Keluarga dominan
Teh & kopi; nira & fermentasi

Gbr. 01 Kawa daun dengan latar Ngarai Sianok, Sumatra Barat. Artalentalle · CC BY-SA 3.0 · Commons

Kalau Jawa adalah pulau santan dan gula aren, Sumatra adalah pulau kopi, teh, dan telur. Perkebunan kopi dan teh masa kolonial di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat meninggalkan kebiasaan minum yang khas: teh dikocok dengan kuning telur di lapau Minang, kopi disajikan terbalik di Meulaboh, daun kopi disangrai untuk kawa daun. Di pedalaman Tapanuli, nira aren menjadi tuak yang diminum di lapo, ruang bicara orang Batak. Dan di Riau, mangga kuini bertemu santan dalam es yang namanya diambil dari legenda.

Minuman yang dibahas

Wilayah

  • Sumatra Utara: lapo tuak, teh susu telur, bandrek Medan.
  • Sumatra Barat: teh talua, kawa daun, cindua langkok.
  • Aceh: kupi khop Meulaboh, kopi sanger, kopi Gayo. Belum punya halaman sendiri; lihat kupi khop.
  • Riau: es laksamana mengamuk, es air mata pengantin. Lihat es laksamana mengamuk.

Pola yang terlihat

Tiga hal berulang di Sumatra. Pertama, warung sebagai lembaga: lapau di Minang, lapo di Batak, warung kopi di Aceh dan Medan adalah tempat kabar dan pendapat beredar, dan minumannya menyesuaikan diri dengan obrolan panjang. Kedua, telur: teh talua, TST, dan bandrek telur memakai kuning telur kocok, sesuatu yang di Jawa hanya muncul pada STMJ. Ketiga, kopi diperlakukan dengan lebih banyak cara daripada di pulau mana pun: disaring, dibalik, disangrai daunnya.