Cremiera
Teh & Kopi·Sumatra Barat

Kawa Daun

Daun kopi, bukan bijinya, disangrai di atas api kecil sampai cokelat, lalu diseduh. Diminum dari tempurung kelapa di dangau tepi jalan Tanah Datar.

Redaksi CremieraDitinjau Riset meja

Kawa daun disajikan dalam tempurung kelapa yang ditumpangkan pada potongan bambu, khas Batusangkar
Kawa daun khas Batusangkar dalam tempurung kelapa. Onyaso · CC BY-SA 4.0 · Commons
Profil minuman
Keluarga
Teh & kopi
Asal
Minangkabau, Sumatra Barat; terutama Tanah Datar, Batusangkar, Agam
Disajikan
Panas, dalam tempurung kelapa (batok) yang ditumpangkan pada bambu
Bahan utama
Daun kopi (robusta atau arabika) yang disangrai atau diasap, air, gula (opsional)
Rasa
Seperti teh hitam ringan dengan aroma asap; sedikit pahit
Warna
Cokelat kemerahan jernih
Tempat
Dangau kawa di tepi jalan
Susunandaun kopi sangrai
Ringkasan

Kawa daun (juga aia kawa) adalah minuman Minangkabau dari daun pohon kopi yang disangrai atau diasap di atas api kecil sampai cokelat dan kering, lalu diseduh dengan air mendidih seperti teh. Disajikan panas dalam tempurung kelapa yang ditumpangkan pada potongan bambu. Rasanya mirip teh hitam ringan dengan aroma asap, dan hampir tidak ada rasa "kopi" di dalamnya.

Daun, bukan biji

Daun kopi yang tua dipetik, dijemur, lalu disangrai atau diasap di atas para-para dengan api kecil selama berjam-jam, sebagian sumber menyebut sampai dua belas jam, sampai berwarna cokelat tua dan rapuh. Daun kering ini disimpan dan diseduh seperti teh: direbus atau disiram air mendidih, disaring, disajikan dengan gula atau tawar. Daun kopi memang mengandung kafeina, meski lebih sedikit daripada biji. Di dangau-dangau kawa, pasangannya adalah gorengan: pisang goreng, bakwan, atau parabuang.

Foto arsip Tropenmuseum: daun kopi disangrai di atas api kecil untuk kopi daun di pesisir barat Sumatra
Menyangrai daun kopi untuk kopi daun, pesisir barat Sumatra. Foto arsip Tropenmuseum. Unknown authorUnknown author · CC BY-SA 3.0 · Commons

Kisah tanam paksa, dan keberatannya

Cerita yang paling sering diulang: pada masa tanam paksa kopi di Sumatra Barat abad ke-19, penduduk diwajibkan menanam kopi dan menyerahkan seluruh bijinya kepada Belanda. Karena tidak boleh menikmati biji kopinya sendiri, mereka merebus daunnya. Kawa daun dengan demikian menjadi "kopi perjuangan". Cerita ini kuat dan mungkin benar sebagian, tetapi sejarawan Universitas Andalas, Gusti Asnan, mengingatkan bahwa kebiasaan minum kawa daun kemungkinan sudah ada sebelum Belanda masuk, dan tanam paksa hanya memperluasnya. Cremiera memuat keduanya; uraian panjangnya ada di Kawa Daun: Kopi yang Diminum dari Daunnya.

Tempurung dan dangau

Yang membuat kawa daun mudah dikenali adalah wadahnya: tempurung kelapa yang dibelah, dikikis licin, dan ditumpangkan pada potongan bambu sebagai kaki. Cara ini menjaga panas dan, menurut penjualnya, memberi aroma. Dangau kawa, warung bambu beratap rumbia di tepi jalan Batusangkar dan Padang Panjang, adalah tempat kawa daun hidup, sebagaimana lapau bagi teh talua.

Sumber & bacaan

  1. Kopi daun Wikipedia (Indonesia).
  2. Kawa Daun Khas Sumatra Barat, Minuman Olahan Tanaman Kopi yang Bukan Kopi Good News From Indonesia; memuat pendapat Gusti Asnan.
  3. Kopi Kawa Daun, Minuman Unik Khas Minangkabau RRI.