Cremiera
Cerita & tradisi

Ota di Lapau, Teh Talua di Meja

Di Minangkabau, kabar kampung tidak beredar di rumah. Ia beredar di lapau, bersama gelas teh talua yang busanya belum turun.

Redaksi CremieraDitinjau Riset meja

Teh talua di sebuah lapau di Padang
Teh talua di sebuah lapau di Padang. D.W. Fisher-Freberg · CC BY-SA 4.0 · Commons

Rumah gadang adalah milik perempuan. Dalam sistem matrilineal Minangkabau, harta pusaka dan rumah diwariskan lewat garis ibu, dan laki-laki, setelah menikah, tinggal di rumah istrinya sebagai tamu yang dihormati. Maka laki-laki Minang membutuhkan ruang lain untuk berkumpul, berdebat, dan bertukar kabar. Ruang itu adalah lapau.

Lapau

Lapau adalah warung kopi: bangunan kayu sederhana dengan meja panjang, bangku, dan dapur kecil tempat air terus mendidih. Menunya pendek: kopi, teh, teh talua, kadang kawa daun, dan gorengan atau ketan. Yang panjang adalah waktunya. Orang datang pagi sebelum ke sawah atau ke pasar, dan datang lagi sore. Perantau yang pulang kampung langsung ke lapau untuk menceritakan kota, dan yang di kampung ke lapau untuk mendengarnya.

Ota lapau, obrolan di lapau, punya reputasi sendiri: separuh kabar, separuh cerita, sering dilebih-lebihkan, dan selalu diperdebatkan. Politik desa diputuskan di sana sebelum diputuskan di balai. Sebuah ilustrasi yang diterbitkan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan bahkan menjadikan "ota lapau" sebagai gambaran ruang publik Minang. Lapau adalah tempat kata-kata beredar, dan minuman yang diminum di sana harus bisa menemani kata-kata yang banyak.

Teh yang dikocok

Teh talua cocok untuk itu. Membuatnya butuh waktu, dan menonton pembuatnya adalah bagian dari kunjungan: kuning telur itik dikocok dengan gula memakai lidi yang dipilin di antara dua telapak tangan, menit demi menit, sampai pucat dan mengembang; teh kental panas dituang perlahan dari ketinggian; busa naik dan lapisan-lapisan terbentuk. Segelas teh talua yang benar punya lima lapis, limo lenggek. Diminum pelan, dengan jeruk nipis yang diperas sendiri, dan gelasnya bertahan sepanjang obrolan.

Ada cerita bahwa teh talua dulu minuman bangsawan dan baru menjadi minuman rakyat setelah perkebunan teh dibuka di Sumatra Barat pada awal abad ke-20. Ceritanya masuk akal secara kronologi (teh memang baru banyak ditanam di dataran tinggi Minang pada masa itu), tetapi kami belum menemukan sumber primer, jadi anggaplah sebagai cerita yang beredar di lapau.

Teh talua di rantau

Lapau ikut merantau bersama orang Minang. Di rumah-rumah makan Padang di seluruh Indonesia, teh talua ada di menu, dan di Medan ia berubah menjadi teh susu telur yang dikocok mixer dan dijual di warung-warung yang berfungsi sama seperti lapau: tempat orang kota duduk lama dan bicara. Lihat Sumatra Utara.

Sumber & bacaan

  1. Teh Talua: Legenda Minuman Khas Minangkabau yang Menggugah Selera RRI.
  2. Teh Talua, Daya Tarik Wisata Sumatera Barat Jurnal Menara Ilmu, UMSB.
  3. Ruang Sosial Orang Medan dalam Segelas Teh Susu Telur Kompas.id.