Teh poci adalah cara minum teh khas Tegal, Jawa Tengah: teh hitam beraroma melati diseduh dalam poci tanah liat, lalu dituang ke cangkir tanah liat yang sudah berisi bongkahan gula batu. Gula tidak boleh diaduk; dibiarkan larut pelan sehingga tegukan pertama pahit-sepat dan tegukan terakhir manis. Orang Tegal merangkum teh yang benar dalam satu kata: wasgitel.
Wasgitel
Wasgitel adalah akronim Jawa Tegal: wangi, panas, sepet, legi (manis), kenthel (kental). Teh yang tidak memenuhi lima syarat itu bukan teh poci. Wangi dari melati yang dicampurkan ke teh hitam, panas karena poci tanah liat menahan suhu, sepet dari seduhan yang pekat, manis dari gula batu, dan kental karena takaran tehnya banyak. Ada yang menafsirkan urutan pahit-lalu-manis ini sebagai falsafah hidup; kami mencatatnya sebagai cara orang Tegal menjelaskan kebiasaannya.
Poci yang tidak dicuci
Poci tanah liat untuk teh poci sengaja tidak pernah dicuci bagian dalamnya, hanya dibilas. Kerak teh yang menebal di dinding poci dipercaya menambah aroma dan rasa, mirip perlakuan teko zisha di Tiongkok. Poci baru dianggap belum "jadi". Cangkirnya pun tanah liat, dan gula batu diletakkan di cangkir sebelum teh dituang. Tradisi ini dianggap berakar dari kebiasaan minum teh masyarakat Tionghoa di Tegal, kota pelabuhan Pantura.
Teh Slawi dan industri teh Tegal
Tegal bukan penghasil teh, tetapi menjadi pusat pengolahan dan pengemasan teh sejak pabrik-pabrik teh berdiri di Slawi pada 1930-an. Merek-merek teh melati Slawi yang dikemas dalam kertas dengan gambar poci menyebar ke seluruh Jawa, dan kebiasaan moci, minum teh poci bersama-sama sambil mengobrol, menjadi identitas kota. Tugu Poci di Slawi, dibangun 2012, adalah pengakuan resminya.
Sumber & bacaan
- Tradisi Moci yang Menopang Industri Teh Tegal Jelajah Kompas, Ekspedisi Teh Nusantara.
- Teh Slawi, Sebuah Ikon Minuman Tradisional Kabupaten Tegal Indonesia.go.id.
- Tradisi Minum Teh Poci yang Bermula di Kota Tegal Katadata.



