Loloh cemcem adalah minuman tradisional Desa Penglipuran, Bangli, Bali, dari perasan daun kecemcem atau kedondong hutan (Spondias pinnata) yang dicampur bumbu rujak (gula, garam, cabai, asam) dan potongan daging kelapa muda. Loloh adalah istilah Bali untuk minuman daun dan rimpang yang setara dengan jamu. Rasanya asam, asin, sepat, dan sedikit pedas.
Loloh, jamu versi Bali
Di Bali, minuman yang diracik dari daun, rimpang, atau kulit kayu untuk kebugaran disebut loloh, dan setiap desa punya loloh andalannya: loloh kunyit, loloh don piduh (pegagan), loloh don sembung. Loloh cemcem adalah yang paling dikenal karena Penglipuran, desa adat yang menjadi tujuan wisata, menjadikannya minuman sambutan dan oleh-oleh. Pemerintah Provinsi Bali mencatatnya dalam Ceraken Kebudayaan Bali sebagai boga tradisional.
Kecemcem, daun yang asam
Kecemcem adalah kedondong hutan yang tumbuh liar di sekitar Penglipuran. Daunnya asam dan sepat. Daun muda dipetik, dicuci, ditumbuk atau diremas dengan air, disaring, lalu dicampur bumbu rujak yang berfungsi "menetralkan" sepatnya: gula, garam, sedikit cabai, kadang asam. Potongan kelapa muda ditambahkan untuk memberi gurih dan tekstur. Hasilnya cairan hijau keruh yang rasanya seperti rujak dalam bentuk minuman; nama lamanya, rujak kloncing, memang menggambarkan itu.

Dari dapur ke botol
Daun ini sudah lama dipakai warga Penglipuran, menurut sejumlah catatan sejak masa kolonial, sebagai minuman rumah. Yang mengubahnya menjadi produk adalah Ibu Kunil, yang pada 1985 mulai menawarkannya kepada tetangga, lalu kepada pengunjung desa. Sekarang loloh cemcem dibuat sejumlah rumah tangga di Penglipuran, dibotolkan, dan dijual di gerbang-gerbang rumah adat.
Sumber & bacaan
- Loloh Cemcem minuman khas Desa Penglipuran Ceraken Kebudayaan Bali, Pemerintah Provinsi Bali.
- Sejarah Loloh Cemcem, Minuman Tradisional Khas Penglipuran Bali yang Awalnya Bernama Rujak Kloncing Bali Express.
- Mengenal Loloh Cemcem, Minuman Bali dari Daun Kedondong Hutan Kompas.com.



