Cremiera
Wedang & Rempah·Jawa Timur, Jawa Tengah

STMJ

Empat huruf untuk empat bahan. Susu panas, kuning telur kocok, madu, dan jahe. Dari warung-warung malam Malang ke seluruh Jawa.

Redaksi CremieraDitinjau Riset meja

Segelas STMJ hangat berbuih di sebuah warung malam di Batu, Malang
STMJ di Batu, Malang. Abdul Hanif Arromy · CC BY 4.0 · Commons
Profil minuman
Keluarga
Wedang & rempah
Asal
Dikaitkan dengan Malang, Jawa Timur; populer di Semarang dan kota-kota Jawa lain
Disajikan
Panas, malam hari
Bahan utama
Susu (segar atau kental manis), kuning telur ayam kampung, madu, jahe
Rasa
Manis, gurih, hangat jahe
Tekstur
Kental berbuih
Dikenal
Warung STMJ di Malang sejak 1970-an; di Semarang ada warung sejak 1950
Susunanjahe+susu+telur+madu
Ringkasan

STMJ adalah singkatan dari susu, telur, madu, jahe: minuman hangat dari susu panas yang dicampur kuning telur kocok, madu, dan rebusan jahe. Minuman ini paling identik dengan Malang, Jawa Timur, tempat warung-warung STMJ menjamur sejak 1970-an, meski warung STMJ tertua yang kami temukan justru di Semarang, beroperasi sejak 1950.

Minuman yang dieja

Sedikit minuman Nusantara yang namanya berupa akronim. STMJ adalah produk warung kota: bahannya susu (dulu susu segar dari peternakan sekitar Malang dan Batu, kini sering susu kental manis), telur ayam kampung yang kuningnya dikocok sampai mengembang, madu, dan jahe yang direbus atau diparut. Kadang ditambah merica, kayu manis, atau ginseng bubuk. Di warung, STMJ dibuat per gelas: kuning telur dikocok dengan sendok atau mixer kecil sampai putih berbuih, madu dan jahe dimasukkan, lalu susu panas dituang sambil terus dikocok.

Kerabatnya di luar Jawa

STMJ punya dua sepupu yang lebih tua. Teh Talua dari Minangkabau memakai teh sebagai dasar, bukan susu, dengan kuning telur yang dikocok sampai berlapis. Sarabba dari Makassar memakai santan dan gula aren. Ketiganya berbagi ide yang sama: kuning telur kocok yang "dimatangkan" oleh cairan panas sehingga minuman menjadi kental dan berbuih.

Malang dan malam

Malang dan Batu berhawa dingin, punya peternakan sapi perah, dan punya budaya nongkrong malam. Tiga hal itu yang membuat STMJ tumbuh di sana. Warung STMJ buka sore sampai dini hari, dan sebagian sudah dikelola generasi kedua atau ketiga. Sebutan "sejak 1970-an" datang dari cerita warung-warung ini, bukan dari dokumen.

Sumber & bacaan

  1. 5 Fakta Minuman STMJ yang Hangat Menyehatkan detikFood.
  2. Musim Hujan, STMJ Karang Doro Semarang Jadi Jujukan Radar Semarang; warung sejak 1950.