Kalau Anda pernah membeli jamu dari perempuan yang menggendong bakul di gang perumahan Jakarta, Bandung, atau Semarang, kemungkinan besar Anda sedang membeli dari orang Nguter. Kecamatan di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, ini sejak 1960-an memasok penjual jamu gendong ke seluruh Jawa, dan sebutan "Kota Jamu" untuk Sukoharjo berawal dari sana.
Bakul dan delapan botol
Jamu gendong adalah cara jual sekaligus nama produk. Penjualnya, hampir selalu perempuan, meracik jamu di rumah pagi-pagi buta: memarut kunyit dan kencur, menyangrai beras, merebus daun asam dan sambiloto, menyaring, membotolkan. Botol-botol itu, secara tradisional delapan, disusun dalam bakul bambu yang dilapisi kain, digendong di punggung dengan selendang, dan dibawa berkeliling dari pagi sampai menjelang siang. Di tangan penjual ada gelas, ember kecil berisi air pembilas, dan sering sebotol air jeruk atau madu untuk yang tidak tahan pahit.
Delapan jamu itu punya urutan: beras kencur yang manis, kunyit asam yang asam, cabe puyang yang pedas, pahitan yang pahit, kunci suruh, kudu laos, uyup-uyup, dan sinom yang manis lagi. Pembeli yang paham memesan sesuai urutan, dan penjual yang paham akan menawarkan pembilas setelah pahitan.

Nguter
Cerita Nguter biasanya dimulai dari seorang perempuan bernama Yoso Hartono, asal Purwodadi, yang pada 1932 tinggal di Solo dan berjualan jamu di Pasar Nguter. Ia dianggap perintis. Tetapi yang mengubah Nguter menjadi "kampung jamu" adalah gelombang perantauan sejak 1965: warga Nguter, terutama perempuan, merantau ke Jakarta dan kota-kota besar membawa keterampilan meracik, dan bakul jamu menjadi cara mereka bertahan. Sebagian menetap, sebagian pulang saat Lebaran dan berangkat lagi. Diperkirakan sekitar seribu warga Nguter berprofesi sebagai penjual jamu gendong pada masa puncaknya.
Di Nguter sendiri, jamu menjadi industri. Kampung Semar, singkatan yang dipilih warga untuk "Esem Manis Anak Makmur", nyaris seluruh rumahnya memproduksi jamu, dari yang diracik untuk gendongan sampai yang dikemas untuk toko. Pasar Jamu Nguter diresmikan 1 April 2015, dan pada 2019 Sukoharjo dinobatkan sebagai destinasi wisata jamu. Kafe-kafe jamu untuk anak muda kini berdiri di kecamatan yang sama tempat perempuan-perempuan itu dulu berangkat dengan bakul.
Yang diakui UNESCO
Ketika "Budaya Sehat Jamu" diinskripsi UNESCO pada 6 Desember 2023, berkasnya disusun dengan riset yang melibatkan ratusan praktisi: peracik, penjual gendong, dan peminum di Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, dan Jakarta. Yang diakui bukan resep, melainkan praktik: pengetahuan tentang tanaman, keterampilan tangan, hubungan penjual dan langganan, dan cara pengetahuan itu diwariskan dari ibu ke anak. Penjual jamu gendong adalah bagian terbesar dari praktik itu.
Yang berubah
Bakul makin jarang; sepeda, lalu sepeda motor, menggantikannya, dan jamu "gendong" kini sering dijual dari boks di jok belakang. Botol kaca diganti botol plastik. Jamu botolan pabrik bersaing di minimarket. Tetapi di banyak kota, langganan tetap menunggu penjual yang sama di jam yang sama, dan pengetahuan tentang siapa butuh apa masih ada di kepala penjual, bukan di label. Itu yang belum bisa digantikan.
Sumber & bacaan
- Sejarah Sukoharjo Berjuluk "Kota Jamu", Berawal Adanya Pasar Jamu Nguter hingga Ditetapkan Jadi Warisan Budaya Tak Benda UNESCO Kompas.com, 2022.
- Belajar Sejarah & Menjelajah Perkembangan Kampung Jamu Nguter Sukoharjo Jamupedia.
- Perjalanan Industri Jamu Nguter Sukoharjo, Dari Jamu Gendong Hingga Kafe Solopos.
- Budaya Sehat Jamu Diinskripsi ke Dalam Daftar WBTb UNESCO Kemdikbud.



